Opak Singkong Jadi Pilihan Bahan Pangan Non Beras
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Bahan pangan singkong dengan kandungan karbohidrat kerap dijadikan bahan baku kuliner pengganti beras. Makanan non beras berbahan nama lain Manihot esculenta kerap dijadikan bahan gaplek untuk nasi tiwul, tape, gethuk, keripik. Jenis kuliner yang bisa disimpan dalam waktu lama salah satunya opak.
Handayani, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut ia mengolah singkong menjadi opak sejak tujuh tahun silam. Melimpahnya hasil pertanian di wilayah tersebut membuat variasi olahan bisa lebih beragam.
Opak singkong menurutnya dibuat melalui proses pemarutan, pengukusan hingga pencetakan. Setelah dibersihkan dari kulit, pemarutan dilakukan untuk mendapatkan bagian ampas. Bahan bumbu pelengkap berupa bawang putih, ketumbar, garam dan minyak goreng. Adonan parutan yang sudah dicampur dengan berbagai bumbu dicetak dalam bentuk pipih.
“Adonan yang telah dipipihkan dengan botol berbentuk lingkaran diberi alas plastik dan minyak goreng selanjutnya dikukus dalam dandang,tanda sudah matang warnanya akan berubah jadi bening,” terang Handayani saat ditemui Cendana News, Sabtu (13/6/2020).
Opak berbahan singkong yang telah dikukus akan dijemur di atas plastik agar mudah dilepas. Proses pengeringan memanfaatkan para para bambu. Dalam kondisi panas terik proses hanya membutuhkan waktu sehari. Setelah pengeringan bagian atas akan dibalik hingga kering sempurna lebih awet.
Opak singkong yang kering sempurna melalui penjemuran sinar matahari bisa disimpan hingga enam bulan. Opak bisa digoreng saat akan dikonsumsi sebagai camilan untuk menemani acara bersantai keluarga.
“Pembuatan opak jadi salah satu cara mengawetkan bahan pangan dalam waktu lama berbahan singkong,” cetusnya.
Kreasi olahan singkong menjadi opak menurut Handayani sekaligus menjadi sumber usaha. Sebab dalam satu bulan ia bisa memproduksi satu kuintal singkong. Perkilogram opak singkong yang sudah kering siap goreng dijual seharga Rp16.000 perkilogram.
Proses pembuatan selama pandemi Covid-19 sedikit berkurang. Sebab pelanggan paling dominan merupakan pemilik warung yang ada di dekat sekolah. Opak yang dijual dengan tambahan sambal tomat diminati oleh para siswa sekolah karena dijual hanya Rp1.000 perbuah.
“Saya dibantu suami, Yatno, membuat opak untuk kebutuhan pedagang keliling dan di pasar tradisional,” terangnya.
Yatno,sang suami menyebut bahan pangan singkong akan memiliki nilai jual lebih saat diolah. Sebab perkilogram dibeli seharga Rp1.000 perkilogram. Namun setelah diolah akan memiliki nilai jual lebih tinggi. Memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi membuat opak bisa jadi alternatif bahan pangan non beras.