Menikmati Gerhana Matahari Cincin Solstis yang Langka
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Gerhana Matahari Cincin Solstis pada tahun ini dinyatakan sebagai salah satu momen yang langka. Karena adanya pandemi COVID 19, maka diadakan marathon broadcast dari 10 negara yang mengalami Gerhana Matahari Parsial dan negara yang mengalami Gerhana Matahari Cincin.

Staf Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) Widya Sawitar menyatakan Gerhana Matahari Cincin 21 Juni 2020 terjadi di sejumlah negara di benua Afrika dan Asia saat Matahari berada pada Titik Balik Utara (June Solstice).
“Fenomena Cincin Api Solstis ini termasuk langka yang akan kembali terjadi pada 21 Juni 2039. Gerhana Matahari Cincin kali ini juga semakin istimewa dengan cincin paling tipis dalam rentang tahun 2003 hingga 2031. Piringan Matahari yang tertutup Bulan mencapai 98.81% saat Puncak Gerhana di daerah Uttrakhan, India pukul 06:40 UT atau sekitar 13.40 WIB,” kata Widya saat dihubungi, Minggu (21/6/2020).
Sayangnya, ucap Widya, pada momen langka seperti sekarang, sebagian wilayah Indonesia hanya mengalami Fase Gerhana Matahari Parsial saja.
“Sedangkan sebagian yang lain tidak dapat melihat fenomena Gerhana Matahari sama sekali termasuk di Jakarta,” tandasnya.
Untuk yang ingin mengamati, Widya berpesan untuk mengamati sesuai dengan prosedur yang aman.
“Seperti menggunakan filter khusus matahari (ND5) atau proyeksi lubang jarum (pinhole),” ucapnya.
Kepala UPT OAIL ITERA Lampung Hakim Luthfi Malasan menyampaikan bahwa akan ada marathon broadcast untuk fenomena Gerhana Matahari Cincin Solstis di 10 negara. Salah satunya adalah Indonesia.
“Peristiwa gerhana sekarang bukan sesuatu yang tabu lagi. Sejalan dengan itu gerhana yang melintasi berbagai negara merupakan event bagus untuk kolaborasi dan promosi kultur,” kata Hakim saat dihubungi secara terpisah.
Hakim menyebutkan bahwa pada gerhana-gerhana yang lalu, semua dilakukan on site, namun kali ini tantangannya adalah pandemi.
“Karena itu melalui orang amatir dan edukator, Universe Awareness, Malaysia yang kebagian gerhana cincin bersama negara-negara pendukung melaksanakan pengamatan marathon gerhana dan beoadcast ini secara on line,” paparnya.
Hakim melanjutkan bahwa10 negara yang terlibat, kebetulan dilewati gerhana dari mulai yang sebagian, seperti Indonesia hingga sampai Taiwan dan Jepang yang gerhananya cincin.
“Yang berpartisipasi meliputi Observatorium (OAIL), klub astronomi, komunitas, juga astronom amatir. Dalam event kali ini selain marathon broadcast juga ada expose dari masing-masing negara. Ada juga sambutan dari Universe Awareness, yaitu dari Leiden Universitas Belanda dan South East Asia Astonomy Network, yang diwakili oleh saya,” pungkasnya.