Kemenkop UKM Ciptakan Alternatif Pembiayaan UMKM

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat mengunjungi stan pada acara Indocraft di Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) berkomitmen menciptakan pembiayaan alternatif untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) melalui fintech untuk mengakses permodalan.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan, cukup banyak sumber pembiayaan bagi UMKM di pemerintah, salah satunya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp190 triliun dengan bunga 6 persen, dan plafon pinjaman hingga Rp500 juta.

Namun menurutnya, hingga saat ini KUR belum terserap hingga sebesar Rp129 triliun. Belum lagi pembiayaan-pembiayaan yang disalurkan lewat Badan Layanan Umum (BLU) pemerintah yang ada di berbagai kementerian, sebesar Rp 30 triliun.

“Jadi, problemnya, masih belum mudah bagi UMKM untuk mengakses ke sana,” ujar Teten berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Sabtu (13/6/202) siang.

Dia menyebut, bahwa sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, rapat kabinet pernah membahas alternatif pembiayaan untuk UMKM, terutama untuk usaha mikro dan kecil, yang tidak memiliki aset sebagai modal investasi.

Menurutnya, banyak perusahaan fintech yang sudah membantu usaha mikro dan kecil yang unbankable. Pemerintah, melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK), juga sudah banyak memberikan izin bagi perusahaan fintech.

“Kalau ini disinergikan, yaitu seluruh sumber pembiayaan dari pemerintah dan swasta, tentu akan sangat besar manfaatnya bagi UMKM naik kelas,” imbuhnya.

Menurut Teten, krisis ekonomi akibat Covid-19 ini berbeda dengan krisis di tahun 1998, di mana saat ini justru UMKM menjadi sektor yang paling terdampak, baik dari sisi pasokan maupun permintaan.

Hanya saja, ketika sisi permintaan terpukul, lalu pembiayaan digelontorkan dan relaksasi pembiayaan dilakukan untuk meringankan cashflow UMKM.

“Tapi masalah demand-nya tidak diciptakan, maka akan berpotensi menjadi kredit macet,” ujarnya.

Oleh karena itu, Teten menganggap langkah untuk menciptakan demand adalah sesuatu yang penting.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bobby Gafur mengatakan, masih banyak UMKM yang belum mampu mengakses dana perbankan, dikarenakan sulitnya memenuhi persyaratan, terutama terkait agunan.

“Dengan adanya perusahaan fintech, seharusnya risk profile di perbankan akan terpotong. Di marketplace, kita bisa melihat kinerja UMKM dari trading history yang sudah dihasilkan,” ungkapnya.

Sehingga tambah dia, dengan adanya analisa digital di marketplace, fintech merupakan pintu baru bagi UMKM untuk dapat mengakses permodalan.

“Saya mengusulkan, dengan masih sulitnya UMKM mengakses KUR, bank pelaksana KUR bisa bekerja sama dengan perusahaan fintech,” ujarnya.

COO KoinWorks, Bernard Arifin mengaku pihaknya siap bekerjasama untuk menyalurkan KUR kepada UMKM. Bahkan kata dia, pihaknya selama ini juga telah menyalurkan pembiayaan UMKM.

“Selama ini juga kita sudah biasa dan sering membiayai UMKM,” pungkas Bernard.

Lihat juga...