Sempat Naik Harga Bahan Baku Kuliner Kembali Normal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Harga kebutuhan bahan pembuatan kuliner di Bandar Lampung kembali normal. Setelah sebelumnya mengalami kenaikan mendekati hari raya Idul Fitri pada bulan Mei silam, bahan baku kuliner menurun.

Maryanti, pedagang kue di pasar Kangkung, Teluk Betung, Bandar Lampung menyebutkan, harga yang turun signifikan meliputi telur ayam, terigu dan gula pasir. Pedagang kue tradisional itu menyebut membeli telur warna cokelat seharga Rp22.000 per kilogram, telur warna putih Rp20.000 per kilogram. Sebelumnya kedua jenis telur ayam tersebut dijual masing masing dengan harga Rp27.000 dan Rp25.000 per kilogram. Bahan lain jenis tepung terigu per kilogram semula dijual Rp12.000 kini turun menjadi Rp9.900 per kilogram.

Selain telur dan terigu kebutuhan bahan baku jenis gula pasir ikut turun. Sebelum Idul Fitri ia menyebut harga gula pasir per kilogram mencapai Rp19.000. Namun kini di sejumlah pedagang bahan kue gula pasir dijual bervariasi mulai harga Rp14.000 hingga Rp16.000 perkilogram. Tiga jenis bahan utama pembuatan kue tersebut diperolehnya dari distributor bahan kuliner.

“Saya membeli berbagai jenis bahan kue kerap dalam ukuran satu sak atau 50 kilogram bisa digunakan dalam sepekan karena saya mempergunakannya untuk pembuatan kue tradisional,” terang Maryanti saat ditemui Cendana News, Sabtu (13/6/2020)

Turunnya harga sejumlah bahan baku kuliner menurutnya dipengaruhi oleh kebutuhan yang berkurang. Permintaan bahan baku kuliner dominan meningkat saat bulan Ramadan hingga hari raya Idul Fitri.

Meski memasuki masa kenormalan baru atau new normal ia tidak menambah jumlah kue yang dibuat. Sebab sebelum masa pandemi Covid-19 ia kerap mendapat pesanan kue dari sejumlah kantor pemerintah. Semenjak sejumlah kantor pemerintah mewajibkan sebagian karyawan bekerja dari rumah (work from home) pembuatan kue dikurangi.

“Pesanan yang berkurang jadi faktor pembuatan kue ikut dikurangi hanya untuk melayani masyarakat umum,” terangnya.

Vani Nory, pembuat kue kering menyebut bahan baku kuliner mulai dibeli dengan harga lebih murah. Pembuat kue kering jenis nastar, putri salju, kue kacang, kastengel, choco chip tersebut membutuhkan bahan baku dominan terigu, gula pasir dan telur. Selain itu bahan lain yang kerap digunakan jenis cokelat, susu.

Penurunan harga sejumlah bahan baku pembuatan kuliner menurutnya mengurangi biaya produksi. Meski penurunan hanya mencapai Rp3.000 hingga Rp5.000 namun sangat membantu pemilik usaha kuliner skala kecil. Berbagai jenis kue kering yang dibuat menurutnya merupakan pesanan dari sejumlah pelanggan untuk kebutuhan camilan keluarga.

“Sebagian kue dipesan untuk sejumlah kantor yang kerap menyajikan hidangan sebagian dijual pada toko kue,” terang Vani Nory.

Sekali proses pembuatan kue kering ia membutuhkan bahan baku rata rata 10 kilogram dan sepekan mencapai 50 kilogram. Pemilihan bahan baku dengan membeli dalam jumlah banyak  lebih murah, kecuali telur ayam sesuai kebutuhan menghindari pembusukan.

Sutikno, salah satu pedagang telur ayam menyebutkan, pasokan melimpah dari peternakan ayam petelur (layer) membuat harga turun. Sebelumnya bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp27.000 per kilogram. Sekarang hanya Rp19.000 hingga Rp22.000 perkilogram.

Pembeli dominan membeli sesuai kebutuhan mulai dari dua hingga tiga karpet. Sebab telur yang dibeli dalam jumlah banyak berpotensi busuk. Solusinya pembelian dalam jumlah terbatas dilakukan dan akan membelinya saat stok habis.

“Turunnya harga telur ayam dan bahan lain tentunya mendukung sektor usaha kuliner agar bangkit saat adaptasi new normal,” tutupnya.

Lihat juga...