Indonesia Kaya Situs Arkeologi Bawah Air, Perlu Dijaga

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Indonesia memiliki banyak sekali lokasi penyelaman berbasis arkeologi. Tapi belum semua tereksplorasi. Dan banyak situs tersebut, sudah menjadi korban dari penjarahan para Treasure Hunter. 

Kepala Seksi BMKT Direktorat Jasa Kelautan KKP, Zainab Tahir, menyebutkan ada sekitar 400 situs yang ada di Indonesia.

“Dari beberapa situs tersebut, ada yang sudah kita survei. Baik pemerintah saja maupun yang bekerja sama dengan pihak swasta,” kata Zainab saat Webinar Arkeologi Bawah Air, Kamis (18/6/2020).

Beberapa pengangkatan BMKT (Barang Muatan Kapal Tenggelam) yang sudah dilakukan adalah situs Pulau Buaya, Belitung dan Blanakan.

“Itu dalam periode 1989 hingga 2000. Dari pulau Buaya Kepulauan Riau tercatat ada 32.000 keping, dari Belitung ada 16.000 keping dan dari Blanakan ada 14. 000 keping,” ujarnya.

Kepala Seksi BMKT Direktorat Jasa Kelautan KKP Zainab Tahir saat Webinar Arkeologi Bawah Air, Kamis (18/6/2020). -Foto Ranny Supusepa

Untuk periode 2000 hingga 2015, Zainab menyatakan ada 84 perusahaan yang melakukan survei dan 10 yang berhasil melakukan pengangkatan.

“Selama periode ini, tercatat ada sekitar 300.000 keping, yang umumnya berupa keramik. Ada juga logam seperti koin, perhiasan, perunggu dan timah. Ada juga batuan berupa perhiasan dan batu tempa,” ucapnya.

Peneliti Arkeologi Maritim, Nia Naelul Hasanah, menyebutkan kendala yang seringkali ditemui dalam penyelaman arkeologi bawah air adalah sangat jarang ditemukan situs yang benar-benar bebas dari jarahan.

“Sering kali kita sudah keduluan dari para pencari harta karun. Kita ini kan memang surga buat para Treasure Hunter. Saking banyaknya situs,  luasnya perairan sehingga sulit memonitor, dan sedikitnya tenaga yang bekerja di bidang ini,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Peneliti Arkeologi Maritim, Nia Naelul Hasanah saat Webinar Arkeologi Bawah Air, Kamis (18/6/2020). -Foto Ranny Supusepa

Lalu, ada juga kendala dari masyarakat di sekitar lokasi situs dan juga ketidaktahuan petugas pemerintah tentang pentingnya melindungi dan melestarikan sumber daya arkeologi bawah air.

“Kebanyakan dari masyarakat tidak tahu kalau hal itu dilindungi, sehingga sering kali mereka juga yang mengambil,” ujarnya lagi.

Karena itu, Nia menyebutkan komunikasi yang intensif dan edukasi menjadi titik penting untuk menjaga situs arkeologi.

“Sosialisasi dan edukasi itu sangat penting. Makanya, setiap kegiatan riset itu selalu ada program Raising Awareness. Baik untuk pemda, masyarakat umum, nelayan, sama anak-anak sekolah dan universitas yang ada di lokasi,” imbuhnya.

Kendala lainnya, berasal dari aktivitas alami yang berada di sekitar situs.

Lihat juga...