Geliat UMKM di Padang Masa ‘New Normal’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Padang, Sumatera Barat, mulai membuka usaha, di masa-masa menjalani kebijakan New Normal atau tatanan kehidupan baru. Kota Padang merupakan daerah yang kini tengah memasuki masa transisi New Normal.

Kondisi yang demikian, membuat pelaku UMKM merasakan angin segar, dimana selama ini pemerintah merumahkan seluruh masyarakat, sehingga ekonomi pelaku UMKM benar-benar terpuruk. Kini dengan telah adanya New Normal, pelaku UMKM pun menyambutnya dengan baik.

Seperti yang dikatakan oleh Mutiara, pedagang empek-empek Palembang di Padang. Selama di rumah saja, kegelisahan dan kegaluan menghantui pikiran. Sebab, kebutuhan hidup sehari-hari, bergantung pada penghasilan UMKM.

Kini ia merasa sangat senang adanya kebijakan pemerintah untuk New Normal, sebab turut berdampak positif terhadap UMKM.

“Saya baru buka kemarin ini, karena New Normal dari pemerintah itu baru kemarin Senin. Di hari pertama alhamdulillah banyak pelanggan, dan hari ini pun saya berharap demikian, banyak empek-empek milik saya ini terjual,” katanya, Selasa (9/6/2020).

Ia menyebutkan dulu sebelum adanya wabah Covid-19, empek-empeknya menjalani masa-masa penjualan yang fantastis. Dengan kondisi pondok makan yang berukuran kecil, dalam sehari bisa memperoleh penghasilan Rp1 juta.

Sementara kini, dalam suasana Covid-19, ia merasa pesimis akan mengalami kondisi penjualan yang baik di masa-masa kondisi normal dulu. Sebab, kendati ditetapkannya New Normal, masyarakat belum sepenuhnya normal beraktivitas.

“Kemarin penjualan saya itu tak sampai Rp400 ribu per hari. Memang lagi sepi pembeli, tapi mungkin seiring New Normal berjalan, akan membaik dari sisi penjualannya,” harap Mutia.

Mengingat masih dalam kondisi wabah Covid-19, empek-empek Mutiara tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Dimana ia sendiri harus menggunakan masker, meminta pelanggan untuk cuci tangan serta wajib menggunakan masker.

Menurutnya, agar usahanya tetap berjalan lancar, menerapkan protokol kesehatan Covid-19 adalah langkah yang harus dilakukan. Sebab, ada anggapan dari pelanggan, apabila ada pedagang yang tidak menggunakan masker, pelanggan atau konsumen  enggan datang membeli.

“Saya berharap betul wabah ini segera berakhir, sehingga benar-benar normal, dan pelaku UMKM seperti saya ini bisa kembali berdagang tanpa ada rasa was-was,” sebutnya.

Empek-empek yang dijual oleh Mutiara terbilang cukup terjangkau. Seperti untuk harga lenjer hanya Rp1.000 per biji, telur kecil Rp1.000 per biji, ikan Rp2.000 per biji, bawang Rp2.000 per biji, keriting Rp4.000 per biji, ikan isi telur Rp4.000 per biji, tahu, Rp5.000 per biji, telur besar Rp5.000 per biji, lenggang Rp8.000 per biji, dan kapal selam Rp9.000 per biji.

Salah seorang pelanggan empek-empek Mutiara, Reva, mengatakan, telah cukup lama menjadi penikmat empek-empek Mutiara itu. Bahkan selama pemerintah meminta untuk di rumah saja, seleranya menginginkan empek-empek Mutiara tersebut.

“Senang sekali empek-empek ini sudah jualan lagi. Tapi saya malah suka bungkus, dan dimasak di rumah saja. Ya biar lebih aman saja, ketimbang lama-lama di luar rumah,” sebutnya.

Reva mengatakan dampak Covid-19 tidak hanya dirasakan oleh pelaku UMKM, hampir segala sisi kehidupan merasakan dampak Covid-19. Begitu juga misalnya dengan masyarakat yang selama ini suka menikmati beragam kuliner, akibat Covid-19 seleranya harus ditahan dulu.

“Nah sekarang New Normal, selera merindu menikmati kuliner sudah bisa dipenuhi satu per satu. Tapi ancaman Covid-19 tentu ada, dan makanya tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19,” jelasnya.

Lihat juga...