FAI: Media Massa Bisa Jadi Kekuatan Alternatif Tekan Israel
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Forum Akademisi Indonesia (FAI) optimistis media massa dan media sosial (medsos) bisa menjadi kekuatan alternatif untuk menekan keangkuhan Israel, termasuk membatalkan rencana pemerintah zionis tersebut yang akan menganeksasi wilayah Tepi Barat Palestina.
Penasihat FAI, Aat Surya Syafaat mengatakan, wartawan dan pengguna medsos bisa memengaruhi opini publik dunia bagi penghentian rencana aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat Palestina, yang merupakan bagian dari rencana ‘Deal of Century’ atau kesepakatan abad ini, yang diprakarsai Amerika Serikat (AS).
“Sejarah membuktikan bahwa pers berperan besar dalam mengakhiri perang Vietnam dan menghentikan politik apartheid di Afrika Selatan, bahkan mendorong pengakuan Kemerdekaan RI oleh dunia internasional,” kata Aat pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (25/6/2020).
Di sisi lain, menurutnya, kehadiran medsos saat ini bisa bersinergi dengan pers untuk menjadi kekuatan alternatif, termasuk dalam menekan keangkuhan pemerintah zionis Israel atas Palestina.
Dia menegaskan, agar media massa dan pengguna medsos yang cinta kemanusiaan baik di Indonesia maupun dunia internasional tidak boleh diam melihat persoalan kemanusiaan yang terjadi atas bangsa Palestina.
“Khusus bagi Indonesia, jasa besar bangsa Palestina tidak akan terlupakan, di mana Mufti Besar Palestina Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini yang saat itu sedang bersembunyi di Jerman mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia sebelum tokoh negara-negara Arab lainnya mengemukakan pernyataan yang sama,” ungkap Aat.
Lebih lanjut dia menyatakan, bahwa media massa di dunia internasional bisa menjadi kekuatan alternatif untuk menghentikan kekejaman Israel atas Palestina.
Aat menyakini media massa bisa berperan melakukan second track diplomacy dalam mendorong negara-negara besar dan berpengaruh seperti Russia dan China untuk menghentikan rencana aneksasi Israel atas Tepi Barat Palestina.
Dan menurutnya, salah satu tujuan pembentukan aliansi media internasional adalah melawan pemberitaan negatif tentang Palestina. “Tetapi peran aliansi untuk pertukaran dan pengutipan berita dunia Islam itu nampaknya belum efektif,” tukasnya.
Dia juga menegaskan, isu Palestina merupakan isu kemanusiaan, bukan hanya semata-mata masalah agama. Karena jika bicara Palestina, di sana terdapat tiga agama, yaitu Islam, yahudi, dan Kristen.
Sehingga kata dia, bukan hanya wartawan di era digital ini, maka siapapun, di setiap pena, laptop, handphone atau di setiap ruang di mana kita bisa menulis.
“Maka menulislah tentang pentingnya perjuangan bagi kemerdekaan Palestina. Karena kekuatan tulisan di era medsos ini lebih berpengaruh dari senjata militer,” tukas Aat Surya Syaat, mantan Direktur Pemberitaan Antara.
Khusus tentang peran Indonesia dalam membela Palestina, Aat pun mengaku teringkat perkataan Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza Ismail Haniya yang pernah menyatakan, bahwa hadiah dari Indonesia terhadap Palestina saat ini ada dua. Yakni, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza dan hadirnya Kantor Berita Islam MINA.
Dalam kaitan itu pula Beliau menyambut baik prakarsa pimpinan Jamaah Muslimin (Hizbullah) yang juga Pembina Utama jaringan Pesantren Al-Fatah di Indonesia bersama Aqsa Working Group (AWG).
“Yang selalu siap menghimpun kekuatan diplomasi bagi pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina,” tutupnya.