Budidaya Anggur, Warga Plumbungan Miliki Tambahan Penghasilan

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Pengembangan kampung wisata edukasi berbasis agrowisata di Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, terbukti mampu memberikan dampak ekonomi luar biasa bagi warga masyarakat sekitar sejak beberapa tahun silam. 

Terkenal dengan sebutan kampung Anggur, mayoritas warga di dusun ini kini telah membudidayakan Anggur di lahan pekarangan rumah mereka. Dari sekitar 200-an kepala keluarga, sebanyak 90 persen atau 180 di antaranya kini telah menanam dan membudidayakan anggur sebagai pekerjaan sampingan mereka.

Hasilnya pun ternyata luar biasa. Setiap warga mampu mendapat tambahan penghasilan mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap bulannya. Pendapatan itu mereka dapatkan dari hasil menjual panenan anggur maupun menjual bibit anggur kepada para pengunjung.

Salah seorang warga, Tono, awalnya mengaku tak tertarik ikut menanam anggur sebagaimana warga lainnya. Ia beralasan karena harga bibit anggur cukup mahal sementara belum tentu pohon anggur tersebut bisa hidup dan berbuah.

“Saya termasuk yang terakhir ikut-ikutan menanam. Dulu belum tertarik karena harga bibitnya kan mahal, kalau mati kan sayang. Tapi akhirnya saya didorong saudara dengan diberi bibit. Ternyata kok hidup. Dari situ saya mulai mengembangkan sendiri,” katanya Kamis (25/06/2020).

Tono, salah seorang warga pembudidaya anggur asal Dusun Plumbungan Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul, Kamis (25/6/2020). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Saat musim panen dan banyak pengunjung datang ke desanya, Tono mengaku bisa mendapatkan pemasukan ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Itu biasa terjadi saat musim panen yakni mulai bulan Agustus hingga Maret.

“Kita jual buah anggur Rp100 ribu per kilo. Selain itu juga jual bibit anggur baik dari hasil stek atau cangkok. Harganya bervariasi mulai dari Rp100-200 ribu per bibit. Kalau untuk yang siap bunga bisa sampai jutaan,” jelas lelaki yang bekerja sebagai petani ini.

Sayangnya, adanya wabah atau pandemi Covid-19 sejak bulan Maret lalu, praktis membuat wisata di kampung Anggur terhenti total. Tak ada satupun pengunjung yang datang ke dusun ini akibat kebijakan pembatasan wilayah. Akibatnya warga pun tak mendapatkan pemasukan tambahan.

“Semenjak adanya corona, belum banyak pengunjung yang datang ke sini. Padahal kemarin sebenarnya angur sedang berbuah lebat. Saat ini, ketika corona sudah mulai mereka, anggur justru belum berbuah lagi. Paling nanti sekitar 1-2 bulan lagi,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Kampung Plumbungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, beberapa tahun lalu mendadak fenomenal dan menjadi perbincangan setelah menyebut sebagai kampung Anggur di Yogyakarta. Pemerintah bahkan telah menetapkan dusun ini sebagai lokasi budidaya anggur nusantara.

Lihat juga...