Aktivitas Bank Sampah Terapkan Protokol Pencegahan Covid-19
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURBALINGGA – Di tengah pandemi Covid-19, bank sampah di Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga tetap berjalan, karena produksi sampah masyarakat tidak berhenti. Namun, para petugas menerapkan protokol pencegahan Covid-19 dalam beraktivitas.
Penggagas bank sampah di desa tersebut, Roro Hendarti, mengatakan, produksi sampah terus berjalan meskipun pandemi, sehingga bank sampah yang ia dirikan yaitu bank sampah ‘Sampah Sahabatku’ juga harus tetap beroperasi, supaya lingkungan tidak dipenuhi sampah.

“Kita terapkan protap kesehatan dalam melakukan aktivitas pengambilan sampah, misalnya terlebih dahulu sampah disemprot dengan cairan disinfektan,” katanya, Rabu (10/6/2020).
Petugas atau relawan yang menjalankan tugas juga dilengkapi dengan protap kesehatan. Roro memilih relawan yang benar-benar sehat dan tidak mengidap penyakit berbahaya untuk bertugas di tengah pandemi.
Kemudian relawan juga diwajibkan menggunakan masker, sarung tangan, kaca mata serta sepatu boat sebagai sarana pelindung diri.
“Sampai saat ini, alhamdulillah semua tetap sehat, walaupun beraktivitas seperti biasa. Karena yang terpenting adalah kita mematuhi aturan pemerintah, yaitu menggunakan masker, rajin cuci tangan dan sebagainya,” tuturnya.
Pasukan dari bank ‘Sampah Sahabatku’ ini khusus mengambil sampah anorganik. Sampah tersebut akan didaur ulang menjadi aneka jenis kerajinan tangan.
“Jadi prosedurnya, saat mengambil sampah warga kita semprot disinfektan terlebih dahulu, kemudian kita timbang di lokasi, warga Desa Muntang sudah paham kalau yang kita ambil adalah sampah anorganik, sehingga mereka sudah memilah di awal,” jelasnya.
Sesampainya di pusat daur ulang ‘Sampah Sahabatku’, sampah-sampah tersebut langsung dicuci bersih menggunakan sabun dan air yang mengalir.
Setelah itu, baru dilakukan pemilahan kembali. Pemilahan dilakukan oleh relawan dan disesuaikan dengan kebutuhan pembuatan kerajinan tangan. Misalnya sampah botol plastik dipilah sendiri, kemudian sampah bungkus-bungkus permen, kopi dan sejenisnya juga dipilah tersendiri.
Lebih lanjut Roro bercerita, pada awal pandemi, ia sempat ragu untuk mengoperasikan bank sampah. Sehingga yang dilakukan hanya proses pengambilan sampah di masyarakat dan aktivitas pemilahan serta daur ulang di bank sampah dihentikan untuk sementara waktu.
Sampah anorganik yang diambil dari warga selama bulan Maret hingga April hanya dibersihkan dan kemudian ditaruh di gudang saja.
“Setelah Covid-19 agak mereda, baru bank sampah dibuka untuk melakukan proses daur ulang, sehingga saat ini kami memiliki stok sampah anorganik cukup banyak,” katanya.
Sementara itu, salah satu warga Desa Muntang, Hartati mengatakan, sangat terbantu dengan adanya bank sampah yang membeli sampah anorganik. Sebab ia bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan sampah anorganik.
“Di tengah pandemi ini mencari uang sangat susah, bahkan banyak yang terkena PHK, jadi dengan menjual sampah anorganik, minimal kita bisa menambah uang belanja untuk kebutuhan dapur,” tuturnya.