Produktivitas Lateks Petani Karet di Lamsel, Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Produktivitas getah karet atau lateks milik sejumlah petani di Lampung Selatan (Lamsel) meningkat.

Sumardi, salah satu petani pekebun karet atau Hevea brasiliensis menyebut produksi lateks meningkat bersamaan dengan peralihan musim penghujan ke musim kemarau. Sebanyak 1000 batang tanaman karet yang ditanam menghasilkan sekitar 5 ton getah lateks.

Rata-rata satu batang pohon karet dalam sepekan diakui Sumardi mampu menghasilkan sekitar 5 kilogram lateks. Pohon yang disadap usai musim penghujan menuju kemarau menurutnya akan memasuki masa trek. Masa trek atau pengguguran daun akan meningkatkan produksi lateks. Sebab getah yang merupakan sumber nutrisi tanaman akan dideres.

Pada puncak musim trek atau meranggas ia menyebut produktivitas akan menurun. Derasnya tetesan getah karet menurutnya tidak diiringi dengan harga lateks.

Lima tahun sebelumnya petani penanam karet seperti dirinya di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menjual lateks seharga Rp15.000 per kilogram. Namun harga berangsur turun mencapai Rp10.000 hingga terendah Rp8.000 per kilogram.

“Produktivitas lateks memang meningkat namun harga jual kerap fluktuatif hanya maksimal mencapai Rp10 ribu dalam tiga tahun terakhir tidak pernah naik, namun dengan produktivitas stabil tetap memberi hasil bagi petani,” terang Sumardi saat ditemui Cendana News, Senin (18/5/2020).

Hasil panen lateks menurut Sumardi mengalami peningkatan dibanding bulan Februari silam. Setiap batang tanaman karet rata-rata bisa menghasilkan sekitar 5 kilogram lateks. Namun memasuki awal Mei produksi lateks per pohon rata-rata bisa menghasilkan 7 kilogram. Pilihan bibit karet yang berasal dari Lampung Selatan berkualitas super membuat produktivitas lateks melimpah.

Masa trek atau menggugurkan daun disebutnya diprediksi akan terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang. Selama masa trek ia menyebut akan mengistirahatkan proses penyadapan atau deres.

Sebab pada masa trek daun yang gugur membuat proses fotosintesis tanaman akan terganggu. Penghentian proses menyadap getah karet bertujuan agar getah karet bisa diserap untuk nutrisi tanaman.

“Ada waktu dua bulan lagi sebelum masa trek tanaman karet masih bisa disadap untuk menghasilkan lateks yang melimpah,” terangnya.

Petani lain bernama Sobri menyebut memiliki sekitar 4000 tanaman karet dengan sebanyak 2500 disadap. Sebagian tanaman karet menurutnya sengaja tidak disadap karena produksi getah sedang menurun.

Sobri, pemilik kebun karet di Desa Gandri Kecamatan Penengahan Lampung Selatan menuang cairan cuka untuk pembeku getah karet sebelum dipanen, Senin (18/5/2020) – Foto: Henk Widi

Ia mengaku bisa menghasilkan panen lateks rata-rata 1 ton per pekan. Satu ton getah karet dengan harga rata-rata Rp8.000 menurutnya menghasilkan Rp8 juta.

Lateks menurutnya akan disimpan dalam wadah khusus sebelum dijual. Proses penyimpanan akan dilakukan melalui perendaman pada bak air khusus untuk menjaga kualitas lateks. Perendaman lateks dalam air sekaligus menjadi cara untuk menambah berat lateks saat ditimbang. Pengepul kerap akan datang saat ia telah menyimpan sebanyak 1 ton lateks.

“Selama masa pandemi Covid-19 hasil panen lateks bisa menjadi sumber penghasilan sampingan,” cetusnya.

Petani karet lain bernama Budiono menyebut, meski produktivitas getah meningkat ia memangkas sebagian tanaman. Pemangkasan tanaman dilakukan agar pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi dan memperbanyak cabang. Perbanyakan cabang tanaman karet menurutnya bisa merangsang produktivitas lateks pada masa penyadapan berikutnya.

Memiliki sekitar 1500 tanaman karet ia menyebut hanya 1000 batang yang masih disadap. Hasil panen getah karet selama masa pandemi Covid-19 menjadi sumber pemasukan cadangan. Sebab pada masa ekonomi yang sulit sebagian pengepul berhenti beroperasi. Ia memilih menjual lateks ke pengepul meski hanya dihargai Rp7.000 per kilogram.

Lihat juga...