Produksi Petani Kakao Lamsel Melimpah di Semester Pertama 2020
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Produktivitas buah kakao atau Theobroma cacao L melimpah pada semester pertama tahun ini. Produksi yang melimpah pada lahan pertanian kakao diiringi peningkatan harga jual. Pada kondisi masa panen penyelang, harga hanya Rp19.000. Saat panen raya, naik menjadi Rp20.000 hingga Rp22.000 perkilogram.
Suyatinah, pemilik kebun kakao di Lampung Selatan menyebutkan, per pohon berbuah hingga 20 kilogram. Panen raya buah kakao diakuinya berbarengan dengan curah hujan tinggi. Buah yang matang tidak bersamaan kerap harus dipanen dengan proses penyortiran. Buah yang telah dipanen akan difermentasi untuk memudahkan pengupasan.
“Proses panen dilakukan dengan pemilahan buah yang sudah tua, karena sebagian telah digerogoti tupai harus cepat dipetik atau warna sudah menguning tandanya siap panen,” terang Suyatinah saat ditemui Cendana News, Senin (11/5/2020).
Buah kakao basah dikeringkan memanfaatkan sinar matahari. Usai proses pengupasan dan pemisahan serat buah kakao bisa dijemur maksimal empat hari untuk mengurangi kadar air.
Proses penjualan buah kakao bisa dilakukan bertahap. Tren harga menyesuaikan musim panen dimana saat produksi panen melimpah harga akan naik. Saat musim penyelang dengan produksi buah kakao terbatas harga akan turun.
“Kalau sedang butuh uang dan kakao telah kering bisa dijual rata rata dua puluh kilogram untuk kebutuhan sehari hari,” terangnya.
Panen buah kakao pada masa bulan Ramadan sangat membantu petani. Sebab dengan menjual 20 kilogram seharga Rp21.000 ia mendapatkan hasil Rp420.000. Selain itu masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) buah kakao bisa menjadi investasi.
Zainuri, petani kakao di Desa Banjarmasin menyebutkan, produksi kakao yang melimpah cukup menguntungkan. Meski sebagian diserang hama tupai dan proses penjemuran cukup lama, ia bisa mendapatkan hasil buah kakao.
“Masa panen tepat saat Ramadan sehingga hasil penjualan bisa untuk memenuhi kebutuhan harian hingga Idul Fitri,” terangnya.
Pengepul sekaligus petani kakao di Desa Padan bernama Ugran mengaku proses penyortiran mutlak dilakukan. Sebab buah yang dipanen saat penghujan memiliki kualitas buah yang beragam. Sebagian buah memiliki kualitas yang kurang bagus imbas hama jamur, busuk buah dan tupai. Proses penyortiran bisa dilakukan setelah proses pengeringan empat hari.
“Kakao yang kering akan disortir berdasarkan grade atau ukuran secara manual atau menggunakan alat,” terangnya.
Grade atau ukuran buah kakao yang kering akan menentukan harga jual. Menggunakan alat moisture meter atau pengecek kadar air dalam buah kakao ia juga bisa menentukan harga. Toleransi kadar air menurutnya akan menaikkan harga jual. Kadar air rendah hingga 5 persen akan membuat kakao bisa dijual maksimal Rp22.000 di pengepul. Sebab di level pabrik bisa mencapai Rp25.000 per kilogram.