Pertamina Pastikan Harga LPG tak Naik Jelang Lebaran
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Menjelang hari raya Idul Fitri 1441 H, harga sejumlah barang kebutuhan pokok merambat naik. Namun PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) IV Jateng-DIY, memastikan harga LPG bersubsidi tidak ikut naik.
Bahkan jika masyarakat mengetahui ada agen dan pangkalan yang menaikan harga di atas ketentuan, diharapkan untuk segera melaporkannya ke aparat setempat atau melalui kontak Pertamina 135.
“Saat ini di wilayah Jateng, Pertamina memiliki lebih dari 40.000 pangkalan LPG PSO atau subsidi, dan 4.800 outlet Non PSO. Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg bersubsidi per tabung, sesuai aturan pemerintah daerah sebesar Rp15.500. Harga tersebut diperuntukkan bagi agen dan pangkalan yang berada di wilayah dalam radius penyaluran Stasiun Pusat Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE),” papar Senior Supervisor Communication & Relations Pertamina MOR IV, Arya Yusa Dwicandra, di Semarang, Jumat (22/5/2020).
Sementara untuk wilayah yang berada jauh dari SPPBE akan ditambah ongkos distribusi, namun tidak lebih dari Rp17.000 per tabung.
“Bila terdapat pangkalan Pertamina yang menjual di atas harga HET, konsumen bisa melaporkannya ke aparat setempat atau melalui kontak Pertamina 135,” tandasnya.
PT Pertamina menegaskan bakal memberikan sanksi kepada semua agen dan pangkalan LPG yang menjual tabung di atas HET yang telah ditentukan. Sanksi yang diberikan hingga mencabut izin bagi agen dan pangkalan.
“Sesuai dengan aturan semua pengkalan dan agen harus menjual LPG, tidak melebihi HET. Sehingga, jika ada yang menemukan agen atau pangkalan melebihi HET maka diminta untuk dilaporkan. Kalau ada pangkalan yang menjual lebih dari HET, masyarakat bisa melaporkan, kita bisa berikan sanksi,” katanya,
Untuk mengantisipasi jika terjadi lonjakan permintaan LPG, khususnya ukuran 3 kg bersubsidi (PSO), Pertamina mengimbau kepada masyarakat untuk tetap patuh pada aturan yang telah ditetapkan dan tidak perlu khawatir akan kekurangan pasokan LPG.
“Jika nantinya terjadi lonjakan permintaan LPG 3 kg bersubsidi, Pertamina bersama pemerintah daerah dan instansi terkait akan berkoordinasi untuk mengalokasikan pasokan tambahan dengan tidak mengurangi jumlah kuota yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat”, ungkap Arya.
Ditegaskan, LPG 3 kg hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin atau tidak mampu, sehingga Pertamina berharap kepada warga masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi yang baik dapat menggunakan LPG nonsubsidi, yaitu varian bright gas.
Sementara, pihaknya memprediksi ada peningkatan konsumsi LPG sebesar 2 persen selama Ramadan, dan menjelang hari raya Idulfitri nanti.
“Rata-rata harian normal penyaluran LPG saat ini di angka 4.035 MT (Metric Ton) dan akan naik menjadi 4.095 MT. Jumlah tersebut tidak berbeda jauh dari Ramadan dan Idulfitri 2019 yang berkisar di angka 4.090 MT per hari,” tambahnya.
Ia menambahkan, untuk stok LPG yang berada di Fuel Terminal Pertamina, saat ini dalam kondisi aman, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat saat hari raya nanti.
Terpisah, Kepala Bidang Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Disperindag Jateng, Mukti Sarjono, mengimbau pengecer mematuhi peraturan yang ada. Selain itu, dia juga meminta pada pengusaha, khususnya restoran besar untuk tidak menggunakan LPG 3 Kg.
“Sesuai Peraturan presiden no. 104 tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga LPG 3 kg, menyebutkan LPG bersubsidi hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan Usaha Mikro, sedangkan untuk usaha kecil, menengah dan atas serta masyarakat mampu dapat menggunakan LPG nonsubsidi yang saat ini telah tersedia di pasaran, yaitu Bright Gas dengan ukuran 5,5 kg dan 12 kg,” tandasnya.