Menjadi Orang Tua Pembelajar, Cegah Pendidikan Beracun

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pakar parenting, Dhuha Hadiansyah, menyatakan setiap pola asuh atau pendidikan yang dilakukan dengan cara mengekang kehendak anak dan mempromosikan anak sebagai objek yang patuh dengan cara pemakaian secara langsung, samar-samar, manipulasi dan menyakiti perasaan adalah konsep pendidikan beracun. 

“Kecenderungan orang tua untuk mendominasi anak biasanya disalahkan terjemahkan sebagai cinta orang tua. Suatu wujud pembenaran bentuk pengendalian, penentu dan pengekangan kehendak anak,” kata Dhuha saat zoom webinar, Minggu (17/5/2020).

Tindakan ini, menurutnya, biasa dilakukan oleh orang tua tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah suatu bentuk pendidikan beracun.

“Membuat anak bertanggung jawab terhadap tugas, impian dan kebahagiaan. Terutama hal ini terjadi pada anak pertama,” urainya.

Contohnya, jika seorang anak lahir, yang pertama disebutkan adalah nanti jadi penjaga orang tua. Atau disebutkan, sebagai penerus cita-cita orangtua.

Tindakan lainnya yang juga merupakan pendidikan beracun adalah mengendalikan anak dengan uang dan rasa bersalah.

“Melibatkan anak dalam konflik pernikahan dan menjadikan anak sebagai pasangan semu akibat tidak harmonisnya hubungan orang tua juga merupakan tindakan pendidikan beracun,” urai Dhuha.

Pakar parenting, Dhuha Hadiansyah, saat Zoom Webinar, Minggu (17/5/2020). -Foto Ranny Supusepa

Akibat menerima pendidikan beracun ini, cepat atau lambat, anak akan menerima dampaknya.

“Dampaknya bisa berupa masalah psikologis, seperti kecemasan, ketidakpercayaan diri, perfeksionisme, sulit bahagia, tidak mampu mengontrol emosi, tidak bisa mengungkapkan perasaan, kekosongan batin maupun keras kepala,” ujarnya.

Dampak lainnya adalah masalah perilaku, yang bisa menjadikan anak sebagai pelaku atau korban segala jenis kekerasan, pecandu, kesulitan menjalin hubungan maupun pelanggar aturan.

“Yang terburuk adalah jika dampaknya menyebabkan gangguan mental pada anak,” tandasnya.

Untuk menghindari hal ini, Dhuha menyatakan orang tua harus belajar menjadi orang tua.

“Kalau dulu orang bilang tak ada sekolah untuk menjadi orang tua, itu salah. Sekarang ada sekolahnya. Di sana orang tua akan belajar tentang bagaimana merencanakan suatu pernikahan dan keluarga harmonis dan merencanakan kehadiran anak. Sehingga, anak akan terbentuk secara sehat jiwa dan fisik, mulai dari sebelum pernikahan,” paparnya.

Dan yang paling penting, orang tua harus menyadari bahwa anak akan terbentuk dalam sistem yang disusun oleh orang tua dalam sistem keluarga.

“Orang tua harus menyadari bahwa anak adalah tanggung jawab mereka sepenuhnya. Bukan tanggung jawab guru apalagi lingkungan,” ucap Dhuha lagi.

Dan yang paling utama, tidak boleh ada penyangkalan dalam diri orang tua bahwa sebenarnya mereka lah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan dilakukan oleh anaknya.

“Jadi kalau ada anak bermasalah, jangan hanya anaknya yang mendapatkan terapi atau perhatian. Yang utama dibenahi itu  adalah orang tuanya, sebagai pengelola sistem dan sistemnya, yaitu keluarga,” tandasnya.

Anak Tak Diinginkan Berpotensi Diabaikan

Anak yang dilahirkan tanpa perencanaan biasanya akan mengakibatkan potensi anak tidak terlalu dicintai atau diabaikan. Hal ini tanpa disadari menjadikan anak memiliki perilaku yang dianggap tidak baik bahkan cenderung memiliki sifat yang tidak terkontrol.

Tiar Yuliani, salah seorang peserta webinar, mengungkapkan bahwa dirinya seringkali menemukan kasus anak yang berperilaku berbeda dari anak lain.

“Ada beberapa kasus, anak yang menjadi depresi karena tekanan atau tuntutan baik dari keluarga maupun dari orang tuanya. Anak ini cenderung lebih mudah emosi maupun cenderung melakukan tindakan yang disebut nakal,” kata Tiar saat zoom webinar, Minggu (17/5/2020).

Tiar Yuliani, salah satu peserta zoom webinar yang mengemukakan masalah anak yang tidak diinginkan saat Zoom Webinar, Minggu (17/5/2020). -Foto Ranny Supusepa

Dalam kasus lain, ada anak yang menjadi sangat pendiam dan sensitif.  “Ternyata setelah ditelusuri, ternyata anak-anak tersebut termasuk dalam golongan anak yang lahir tanpa perencanaan,” ujarnya lebih lanjut.

Sementara itu, pakar parenting, Dhuha Hadiansyah, menyebutkan sedikitnya ada enam kategori anak yang lahir tanpa perencanaan dan secara persentase, jumlah anak yang tanpa perencanaan ini mencapai 60 persen dari seluruh jumlah anak.

“Yang pertama adalah anak hasil pernikahan yang menikah karena sang perempuan sudah hamil duluan. Lalu anak yang lahir, saat orang tua belum menginginkan anak atau umumnya disebut kebobolan,” kata Dhuha.

Lalu, anak yang terlahir tapi salah satu orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya, jenis kelamin anak tidak sesuai dengan keinginan orang tua dan tampilan fisik anak yang berbeda dengan harapan orang tua.

“Saat ini terjadi, mayoritas anak akan mengalami pengabaian dari orang tuanya. Pengabaian ini merupakan tindakan berlawanan dari cinta,” ujarnya lebih lanjut.

Pengabaian ini biasanya akan mendorong perilaku mencari perhatian oleh anak. Yang cenderung disebut nakal oleh masyarakat.

“Perlu ditekankan bahwa perilaku anak yang seperti itu merupakan acting out dari masalah yang ada di keluarganya. Pengaruhnya pada anak adalah tidak menerima diri dan kurang disiplin, yang mengakibatkan jiwa anak kosong,” papar Dhuha lebih lanjut.

Jiwa yang kosong ini, lanjutnya, berpotensi untuk terisi oleh perasaan-perasaan yang berlebihan.

“Misalnya amarah yang meledak-ledak. Jika berlebihan dalam hal seksual bisa menjadi pecandu seks atau memiliki kelainan seksual. Atau menganut hidup bebas, seperti perilaku gay, narkoba maupun free sex,” ucapnya.

Untuk menghindari hal ini, orang tua harus bisa menerima kondisi anak apa adanya. “Dan jangan diungkit-ungkit lagi keberadaan diri anak. Misalnya, karena kebobolan, ya jangan disebut-sebut lagi. Baik oleh orang tua maupun oleh keluarga besar,” urainya.

Dan yang paling penting adalah memperlakukan semua anak dengan tindakan yang sama dan sesuai dengan kebutuhan anak.

“Misalnya, jika memang anaknya laki-laki, padahal pengennya anak perempuan, ya jangan disebut terus. Apalagi sampai memperlakukan anak tersebut seperti anak perempuan,” pungkasnya.

Lihat juga...