Delapan Positif Covid-19 di Sikka dari Klaster Lambelu
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengirim 71 sampel swab ke laboratorium RSUD W.Z.Johannes Kupang, Sabtu (9/5/2020) untuk dilakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Dari 20 sampel yang sudah diuji, sebanyak 8 sampel dinyatakan positif Covid-19 dan semuanya berasal dari klaster Lambelu yang masih menjalani karantina terpusat di bekas kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka sejumlah 46 orang
“Sudah 20 sampel yang diperiksa dan hasilnya 8 positif Covid-19. Nama-namanya sudah disampaikan dan tersebar di tiga kecamatan,” kata Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Kamis (14/5/2020).
Robi sapaannya mengatakan, 8 pasien ini masing-masing 1 orang berasal dari wilayah Kecamatan Lela dan Waigete sementara 6 orang lainnya dari Kecamatan Talibura,
Semuanya kata dia, berasal dari klaster Lambelud dan Sikka masih mempunyai 51 sampel swab yang kemungkinan hari ini Kamis (14/5) atau besok Jumat (15/5) sudah bisa disampaikan hasilnya.
“Dari 8 orang yang statusnya positif tersebut satu orang dari Lela tidak pernah kembali ke rumahnya sejak tanggal 7 April sementara 7 orang lainnya dikembalikan ke rumah mereka,” jelasnya.

Sebanyak 7 pasien positif Covid-19 ini tambah mantan camat Nelle ini, mereka sempat menjalani karantina mandiri di rumah atau lokasi karantina yang disediakan desanya setelah menjalani karantina terpusat selama 16 hari.
Pemerintah sebutnya, mengimbau kepada seluruh warga Kabupaten Sikka agar tetap tenang, jangan panik dan menjalankan protokoler kesehatan dan arahan yang disampaikan pemerintah.
“Pemerintah juga telah menyiapkan langkah-langkah untuk penanganan sesuai dengan protap kesehatan penanganan Covid-19,” terangnya.
Dokter spesialis penyalit dalam RS TC Hillers Maumere, dr. Asep Purnama mengatakan, pada kasus Covid-19 yang menular secara droplet dan kontak, dengan menghentikan penularan maka virus corona (SARS Cov2) akan berhenti di tubuh manusia yang sedang tertular.
Pada kasus Covid -19 yang tidak bergejala atau bergejala ringan, virus corona, kata Asep, akan mati oleh daya tahan tubuh manusia dan pasien sembuh dan berbagai data menunjukkan bahwa skenario ini terjadi pada 80 persen kasus..
“Pada kasus Covid-19 sedang atau berat, sekitar 15 persen kasus virus corona cukup kuat dan mampu membuat ‘keributan’ dalam tubuh manusia sehingga pasien memerlukan perawatan di rumah sakit,” ungkapnya.
Dengan berbagai upaya yang ada saat ini, tandas Asep, tubuh pasien berhasil melakukan perlawanan dan menang sehingga virus corona pun akan mati dan pasien pun sembuh.
“Pada 5 persen kasus Covid-19 yang kritis atau fatal, virus corona menang dalam pertempuran melawan manusia meski sudah diupayakan oleh tim medis di rumah sakit. Pasien pun meninggal dunia dan virus corona juga ikut mati,” pungkasnya.