Warga Lamsel Mulai Berjualan Bahan Takjil
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Memasuki bulan Ramadan, sejumlah warga di Lampung Selatan memanfaatkannya untuk berdagang baghan takjil. Mulai dari buah, cendol dan kolang-kaling, yang banyak diburu untuk membuat minuman segar.
Jamal, warga Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, mengolah buah aren atau kolang-kaling untuk dijual kepada konsumen maupun kepada pengepul.
Kolang-kaling diolah dengan cara direbus. Untuk menghilangkan gerah gatal pada kulit, selanjutnya kolang-kaling dikupas. Kolang-kaling yang masih muda dengan biji berwarna bening, bisa dijual kepada pengepul. Kolang- kaling tersebut akan mengembang lebih besar saat direndam dengan air.
Rasa kenyal buah kolang-kaling, menurut Jamal menjadikan buah tersebut banyak diminati. Buah kolang-kaling dijual ke pengepul dengan harga Rp5.000 per kilogram. Sekali proses mengolah kolang kaling, ia menghasilkan sekitar 200 kilogram.

Pembuatan kolang-kaling menyesuaikan pasokan bahan baku yang diperoleh dari sejumlah kebun di kaki Gunung Rajabasa.
“Pembuatan kolang-kaling menjadi usaha musiman selama Ramadan, karena permintaan meningkat, terutama dari konsumen pembuat minuman takjil,” terang Jamal, saat ditemui Cendana News, Jumat (24/4/2020).
Jamal mengaku, mengolah kolang-kaling menjadi pekerjaan musiman. Namun saat masa pandemi Covid-19 dengan berkurangnya warga berjualan makanan dan minuman takjil, permintaan kolang-kaling terbatas. Tahun ini, ia memasok untuk belasan pedagang yang berjualan takjil. Sebagian konsumen merupakan kaum ibu yang akan membuat es buah untuk keluarganya.
Penghasilan selama mengolah kolang-kaling memberinya hasil ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Tanaman aren yang mulai jarang ditemui, membuat hasil olahan kolang-kaling lebih sedikit dibanding tahun lalu,” terang Jamal.
Selain kolang-kaling, masa puasa menjadi waktu mencari keuntungan bagi Suminah. Pedagang sayur yang kerap berkeliling pada pagi hari ini memilih berjualan pada sore hari. Sejumlah bahan sayuran mentah dan sebagian matang disediakan olehnya. Sayuran matang yang kerap disiapkan meliputi pepes ikan, ikan bakar, sayur lodeh, dan ayam bakar.
Suminah juga menyediakan minuman berbuka puasa meliputi cendol, es cincau dan es buah. Namun bagi sejumlah warga yang ingin membuat minuman, ia menyediakan cendol dan kolang-kaling yang belum dibuat. Pepaya matang, semangka dan melon juga disediakan olehnya. Dijual dengan harga mulai Rp7.000 hingga Rp10.000, sejumlah kebutuhan berbuka puasa disiapkan.
“Selama masa Ramadan ini saya berkeliling untuk berjualan kebutuhan berbuka puasa,” terangnya.
Momen puasa Ramadan juga dimanfaatkan Kuwadi untuk menjual timun suri dan melon. Buah segar yang kerap digunakan untuk campuran es buah banyak diminati oleh warga. Timun suri yang ditanam di lahan tegalan sawah, dijual per kilogram mulai harga Rp3.000 hingga Rp5.000.
Buah timun suri yang dipanen saat Ramadan, kerap menjadi pilihan warga karena memiliki khasiat menurunkan panas dalam.
Selama masa Ramadan, warga Desa Kelaten itu menyediakan sekitar 300 kilogram buah timun suri. Buah yang matang tidak bersamaan sebagian akan diperam.
Buah timun suri yang dijual berkeliling sebagian masih belum dipanen untuk stok hingga akhir Ramadan. Berjualan buah keliling, menurutnya memberi keuntungan di tengah sulitnya mendapat pekerjaan selama pandemi Corona.