Semua Tempat Wisata di Flotim, Ditutup

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Dampak merebaknya virus Corona membuat berbagai tempat wisata terpaksa ditutup, baik yang dikelola pemerintah daerah maupun masyarakat umum, yang selama ini selalu dibanjiri wisatawan lokal.

Pemerintah kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pun melakukan penutupan terhadap tempat wisata Wai Platin dan Pantai Asam Satu Beach di wilayah sekitr kota Larantuka.

“Akibat dampak penyebaran Covid-19, kami pun terpaksa melakukan penutupan terhadap tempat-tempat wisata di Flotim,” kata Apolonia Corebima, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Flotim, Minggu (19/4/2020).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Flores Timur, NTT, Apolonia Corebima, Minggu (19/4/2020). -Foto: Ebed de Rosay

Nia, sapaannya, menyebutkan Wai Platin atau Air Panas merupakan salah satu obyek wisata yang setiap hari Minggu atau hari libur selalu ramai dikunjungi masyarakat.

Selain itu, kata dia, ada pantai Asam Satu Beach yang dikelola anak-anak muda di kelurahan Weri yang merupakan pantai berpasir putih dan sudah dilengkapi lopo atau bangunan untuk tempat beristirahat.

“Kedua tempat wisata ini hampir setiap hari dikunjungi msyarakat, terutama hari libur, karena letaknya yang dekat dengan pusat kota Larantuka ke arah barat dan ke arah timur,” ungkapnya.

Selain kedua tempat wisata ini, tambah Nia, tempat wisata lainnya di daratan Flores seperti Air Panas dan pantai Kawaliwu, Pante Oa, Danau Waibelen yang juga ramai dikunjungi wisatawan juga ditutup.

Ada juga tempat wisata seperti pantai Watotena di pulau Adona dan patai Riangsunge di pulau Solor, ikut ditutup untuk jangka waktu yang tidak ditentukan sesuai imbauan pemerintah.

“Semuanya tergantung keputusan pemerintah dan bila sudah memungkinkan situasinya, akan dibuka kembali,” terangnya.

Sementara itu Emanuel Diaz, salah seorang warga kabupaten Sikka mengatakan, setiap hari libur dan hari Minggu banyak warga kota Larantuka yang berwisata ke berbagai tempat wisata, termasuk ke areal persawahan di Bama sebelah barat kota Laratuka.

Penutupan tempat wisata ini, kata El, sapaannya, merupakan langkah bagus karena jangan sampai masyarakat memanfaatkan hari libur dari aktivitas kerja dan sekolah untuk mengunjungi tempat wisata.

“Ini sebuah langkah bagus untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Banyak masyarakat yang masih suka berkeliaran di jalan, meskipun tidak memiliki kebutuhan penting dan mendesak,” ungkapnya.

El juga mengaku kecewa dengan pembatalan berbagai ritual Semana Santa, termasuk prosesi Jumat Agung kelililing kota Larantuka yang sudah berlangsung lebih dari lima abad, dan selalu dilaksanakan setiap tahunnya.

Namun dirinya memahami langkah ini harus diambil, mengingat kegiatan Semana Santa akan melibatkan puluhan ribu orang dari berbagai wilayah di Indoensia yang datang ke kota Larantuka untuk mengikuti ritual Semana Santa.

“Sebagai masyarakat, kita memahami dan mematuhi langkah yang diambil pemerintah, meskipun ritual agama ini sudah berlangsung lebih dari lima abad dan menjadi wisata religi,” tuturnya.

Lihat juga...