Peziarah Diwajibkan Pakai Masker dan Cuci Tangan
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
BANYUMAS — Tradisi ziarah sebelum memasuki bulan Ramadhan tetap dilakukan beberapa warga di tengah Covid-19. Karenanya untuk mengantisipasi, peziarah diwajibkan menggunakan masker dan mencuci tangan. Jumlah yang masuk kawasan makam juga dibatasi.
Aturan tersebut diberlakukan di Pesarean Kebutuh yang berada di Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Jalan di depan pesarean dijaga oleh beberapa pemuda yang memantau pemakaian masker serta mengatur jumlah peziarah yang masuk.
“Maksimal 50 orang yang masuk, selebihnya harus bergantian. Tetapi kunjungan ke makam sekarang sepi, jauh menurun di banding bulan puasa sebelumnya, sehingga aturan jumlah sudah gugur dengan sendirinya,” kata penjaga makam, Slamet, Selasa (21/4/2020).
Pada tiga pintu masuk di lokasi pesarean juga terpampang poster bertuliskan tata tertib bagi peziarah. Antara lain harus menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah dari pesarean, waktu berada di dalam dibatasi maksimal 20 menit, menjaga jarak antarpeziarah dan ketentuan jumlah maksimal yang masuk lokasi pemakaman.
Salah satu peziarah Vivin mengatakan, sebetulnya agak was-was juga datang ke pemakaman, namun tradisi untuk nyekar menjelang bulan Ramadhan harus dilakukan. Sebab, di lokasi pemakaman tersebut banyak makam keluarga besarnya.
“Sudah tradisi dan merasa belum lengkap kalau belum ziarah, lagi pula menjadi kewajiban kita untuk menengok dan mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia,” katanya.
Vivin datang bersama kakaknya, Lina serta keponakannya untuk ziarah ke makam ayahnya. Selain membersihkan makam, mereka juga membacakan Surat Yasin bersama-sama.
Terkait aturan untuk menggunakan masker dan mencuci tangan, ia sangat mendukung. Bahkan, dengan disediakannya, justru menjadi fasilitas tambahan bagi para peziarah.
“Biasanya kita bawa air sendiri untuk cuci tangan setelah membersihkan makam, sekarang sudah disediakan lengkap dengan sabunnya,” tuturnya.
Hingga siang hari, beberapa warga tampak masih berdatangan ke makam. Namun, jumlahnya jauh berkurang. Biasanya sejak satu minggu menjelang puasa, lokasi makam sudah dipenuhi pengunjung. Sepanjang jalan di depan makam juga dipenuhi kendaraan, hingga menyebabkan kemacetan. Namun, sampai dengan H-3 puasa ini, jalanan di depan makam masih lengang.
Penziarah yang biasanya banyak datang dari luar kota, sekarang hanya ada warga setempat saja.
“Yang dari kota, tidak pada mudik, jadi yang ziarah kebanyakan warga sekitar saja,” kata Slamet.