Permintaan Opak Singkong di Lamsel, Meningkat
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Imbauan pemerintah agar masyarakat bekerja dan belajar di rumah selama pandemi global Covid-19, ternyata berdampak positif bagi perajin opak singkong di Lampung Selatan. Pasalnya, warga yang beraktivitas di rumah membutuhkan camilan atau kudapan, sehingga permintaan opak singkong pun meningkat.
Handayani, salah satu produsen opak singkong menyebut, pesanan kudapan ringan tersebut meningkat sejak satu bulan lalu. Permintaan dari konsumen langsung dan sejumlah pedagang dipenuhi dengan menambah bahan baku.
Menurut Handayani, opak singkong yang dibuatnya berukuran kecil dibandingkan opak pada umumnya. Kudapan atau camilan opak tersebut kerap menjadi sajian untuk camilan seperti kerupuk. Pada kondisi normal, permintaan berasal dari sejumlah warung makan, dan selama masa pandemi Covid-19 ini permintaan opak meningkat. Menurutnya, karena hal itu disebabkan oleh banyaknya warga yang berada di rumah, sehingga membuat konsumi camilan diminati.

Sekali proses pembuatan, Handayani rata-rata memproduksi 20 kilogram singkong. Namun, banyaknya permintaan membuat ia memproduksi singkong menjadi opak sekitar 40 kilogram sekali produksi.
Pembuatan opak dari singkong hanya menggunakan alat parutan lalu hasil parutan diberi bumbu,dicetak dan direbus sebelum dijemur. Bumbu berupa bawang putih, merica, cabai dan garam digunakan untuk menambah cita rasa.
“Pembuatan opak dilakukan dengan cara tradisional tanpa bahan pengawet, namun karena jenis singkong untuk pembuatan opak cukup bagus bisa disimpan dalam waktu lama hingga hasilnya renyah saat digoreng,” terang Handayani, saat ditemui Cendana News tengah menjemur opak buatannya, Sabtu (18/4/2020).
Opak singkong yang selesai dijemur akan dikemas dalam ukuran 1 kilogram. Per kilogram opak singkong dijual ke konsumen seharga Rp16.000. Konsumen kerap membeli dalam jumlah banyak untuk cadangan camilan selama berada di rumah. Terlebih, opak yang kerap dijual ke sejumlah kantin sekolah tidak bisa diperoleh sejak satu bulan terakhir.
Opak singkong yang dibuat dalam ukuran kecil, menurut Handayani bisa digoreng untuk camilan ketika acara santai bersama keluarga. Dibuat dengan varian rasa pedas dan gurih, membuat opak singkong bisa dimanfaatkan sebagai alternatif lauk saat makan nasi.
Dalam satu bulan, ia mengaku bisa memproduksi sekitar 120 kilogram. Produksi dibuat memanfaatkan sinar matahari untuk proses penjemuran.
“Saat kondisi cuaca cerah dengan sinar matahari sempurna, dalam satu hari bisa kering, namun jika hujan akan terhambat,” ungkapnya.
Omzet pembuatan opak singkong dalam kondisi normal rata-rata mencapai Rp1,2 juta. Namun permintaan yang meningkat dalam satu bulan terakhir, membuat ia bisa mendapat omzet sekitar Rp1,9 juta. Sejumlah konsumen yang membutuhkan opak mentah atau belum digoreng kerap datang ke rumahnya. Sebagian merupakan pedagang yang akan menjualnya kembali ke sejumlah pasar tradisional.
Yatno, sang suami menambahkan, opak merupakan olahan berbahan singkong yang disukai berbagai kalangan. Selama masa pandemi Covid-19, aktivitas warga yang dominan ada di rumah berpengaruh meningkatkan permintaan opak singkong. Memenuhi permintaan masyarakat hingga luar kecamatan Sidomulyo, ia menyebut bahan baku singkong masih mudah diperoleh.
“Singkong saya datangkan dari petani di wilayah Sidomulyo, sebagian dari Lampung Timur, agar produksi bisa terus dilakukan memenuhi permintaan konsumen,” cetusnya.
Produksi opak singkong, menurut Yatno sekaligus memenuhi permintaan pedagang oleh-oleh. Sebagian pedagang yang berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) mendapat pasokan dari usaha yang ditekuninya. Banyaknya warga yang rindu akan makanan tradisional itu membuat ia menambah jumlah produksi.
Sutini, penanam singkong di Sidomulyo, menyebut pembuatan makanan tradisional itu pun ikut menguntungkan petani. Sebab, bahan baku pembuatan opak dan olahan lain berbahan singkong membuat ia bisa mendapat penghasilan tambahan.
Singkong yang dipanen selain bisa dimanfaatkan untuk direbus, digoreng bisa diolah menjadi produk turunan bernilai jual lebih tinggi.
Pembuatan produk olahan berbahan singkong, menurutnya menjadi pilihan untuk mengawetkan singkong. Variasi olahan singkong menjadi berbagai kudapan tradisional membuat daya simpan lebih lama. Singkong yang memiliki kandungan gizi tinggi juga bisa digunakan untuk bahan baku tiwul sebagai pengganti beras. (Ant)