Masyarakat Desa Sragi-Lamsel Gelar Punggahan Sambut Ramadan
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Di tengah pandemi Covid-19, tradisi munggahan atau punggahan tetap dilakukan oleh jemaah Masjid Nurul Janah, di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan.
Ustad Muhamir Hisam, tokoh agama desa etempat, mengatakan, munggahan atau punggahan dilakukan sebelum salat tarwih. Menurutnya, makna munggahan adalah ungkapan sukacita umat muslim di wilayah itu untuk memasuki bulan yang disucikan. Dalam tradisi ini, puluhan jemaah menggelar kegiatan makan bersama.
“Sebagai masyarakat yang hidup sebagai petani dan petambak, tradisi munggahan dilakukan sebelum salat tarawih. Sejumlah warga yang telah memasak sejak petang membawa berbagai jenis makanan ke masjid. Awal puasa yang ditetapkan oleh Kementerian Agama RI melalui sidang isbat jatuh pada Jumat (24/4/2020), membuat jemaah memulai munggahan pada Kamis (23/4/2020) malam,” kata Ustad Muhamir Hisam, Kamis (23/4/2020) malam.
Ia menjelaskan, munggahan berasla dari kata bahasa Jawa, ‘munggah’, yang artinya naik, dan secara spritual bagi jemaah yang akan menjalankan puasa Ramadan, berarti menaikkan nilai keimanan selama bulan puasa.

Tradisi tersebut, diakui Muhamir Hisam tidak bisa dihilangkan oleh masyarakat. Meskipun dalam suasana pandemi Covid-19, munggahan tetap digelar. Sebab, berdasarkan kondisi masyarakat yang hidup sebagai petambak udang, petani tidak ada warga pendatang atau keluarga dari luar wilayah. Sebagian besar jemaah yang jumlahnya puluhan juga jarang bepergian ke zona merah Covid-19.
Tradisi munggahan dilakukan oleh jemaah dengan makan bersama. Semua jenis makanan yang dibawa oleh setiap keluarga ditempatkan di bagian tengah, lalu dikelilingi.
Lokasi munggahan berada di aula samping masjid. Sebab, lokasi tersebut cukup luas. Sebelum didoakan, ustad memberikan tausiah makna munggahan yang harus dimaknai secara rohani.
“Rasa syukur pada Allah SWT kita sebagai keluarga besar jemaah masjid Nurul Janah, dipertemukan kembali di bulan yang suci,” terang ustad Amir.
Kegiatan makan bersama, menurutnya akan kembali dilakukan pada hari ke-15 atau setengah bulan puasa. Selanjutnya akan dilakukan pada malam ke-21 atau kerap dikenal dengan malam selikuran. Tradisi tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan menjalankan ibadah salat tarwih setiap malam. Usai acara makan bersama pada munggahan, dilanjutkan dengan salat tarwih.
Kegiatan salat tarwih yang dilakukan usai makan bersama, menurutnya tetap mematuhi protokol kesehatan. Sesuai surat imbauan Nomor: 443/108/VII.10/2020 Pemerintah Kecamatan Sragi, salat tarwih tetap dijalankan dengan protokol kesehatan.
“Salat tarwih tetap dilaksanakan, tetapi tetap cuci tangan, menjaga jarak selama di dalam masjid, membawa sajadah sendiri dari rumah,” cetusnya.
Bagi jemaah yang akan melaksanakan tadarusan, menurutnya bisa melanjutkan di rumah. Namun bagi yang ingin tetap melaksanakan tadarusan di masjid, dianjurkan tidak menggunakan pengeras suara. Sebab, meski tarwih dan tadarusan tetap dilakukan di masjid Nurul Janah, protokol kesehatan dijalankan.
Susilo, salah satu jemaah masjid Nurul Janah, menyebut makan bersama dalam tradisi munggahan menjadi ungkapan syukur bisa memasuki bulan Ramadan tahun ini.
Sebelum kegiatan munggahan dan salat tarwih, Susilo dan anggota Remaja Islam Masjid (Risma) telah melakukan kegiatan pembersihan. Pembersihan area dalam masjid dilakukan bertahap sejak dua hari lalu, dengan mengepel lantai, membersihkan dan menjemur karpet. Penyemprotan disinfektan juga dilakukan di area masjid agar steril selama bulan Ramadan.