Kreasi Cantik Ecobrick dari Daur Ulang Sampah Plastik
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
SEMARANG – Sampah plastik menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat. Di satu sisi, metode pembakaran sampah plastik juga bukan menjadi solusi yang tepat. Untuk itu, perlu cara yang tepat dalam pengelolaannya, salah satunya dengan ecobrick.
“Penggunaan plastik di lingkungan masyarakat sangat tinggi, sehingga menghasilkan sampah plastik yang tidak kalah banyak. Belum lagi, pemusnahan plastik dengan cara dibakar hanya akan mempurburuk kesehatan karena zat dioksi yang dihasilkannya,” papar instruktur ecobrick Jateng, sekaligus dosen UPGRIS, Maria Ulfah, SSi, M.Pd, di Semarang, Rabu (15/4/2020).
Mengusung prinsip 3R yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang), selayaknya dapat diterapkan dalam mengatasi sampah plastik.
“Ada cara mudah namun efektif, yaitu ecobrick. Metode ini mengajak kita untuk memanfaatkan sampah plastik dengan media botol plastik. Caranya, botol plastik tersebut kita isi dengan potongan sampah plastik, hingga benar-benar keras dan padat,” terangnya.
Nantinya, botol plastik yang sudah terisi penuh dengan potongan sampah plastik, dapat digunakan untuk sesuatu yang berguna. “Contoh pemanfaatannya adalah untuk pembuatan meja, kursi, tembok, maupun barang kesenian lainnya yang bahkan memiliki nilai jual. Metode ini terbukti mengurangi jumlah sampah plastik,” terang Ulfa.
Dijelaskan, cara pembuatannya sangat mudah. Pertama disiapkan, botol plastik dengan ukuran volume yang sama, kemudian diisi dengan potongan sampah plastik lainnya. Potongan sampah tersebut, kemudian dimampatkan dengan bantuan tongkat kayu atau bambu.
“Ada hitungannya, antara volume botol dan berat isi sampah yang dimasukkan, yakni 1/3 dari volume botol plastik yang digunakan. Misalnya botol plastik ukuran 600 mililiter, maka berat ecobrick harus minimal 200 gram. Jika ukuran botol 1,5 liter maka berat minimal ecobrick 500 gram. Jika ditimbang sudah sesuai dengan berat minimal, kemudian tutup botol ecobrick dengan rapat,” terangnya.
Diterangkan, berat minimal tersebut harus terpenuhi sehingga kualitas ecobrick yang dihasilkan sesuai dengan standar. Selain itu juga mampu menahan beban. Selain itu, dalam pengaplikasian agar ecobrick dapat bernilai, juga harus diperhatikan nilai estetika, sehingga produk yang dihasilkan lebih menarik.
Ulfa memaparkan selama ini dirinya sudah melakukan banyak pelatihan kepada masyarakat, baik melalui organisasi karang taruna, PKK hingga kelompok umum.
“Respon masyarakat sangat bagus. Mereka bersemangat dalam membuat ecobrick, terutama dari komunitas bank sampah. Selain bahan baku banyak dan bervariatif, mereka juga sudah terlatih sehingga produk yang dihasilkan pun berdaya jual,” terangnya.
Sementara, salah satu warga Tembalang Semarang, Yuniarti mengaku tertarik dengan metode ecobrick dalam pengelolaan daur ulang sampah.
“Kebetulan warga kami tengah merintis bank sampah, dalam pengelolaan sampah organik dan non organik. Kita berharap dengan adanya ecobrick ini mampu meningkatkan wawasan kita tentang pemanfaatan sampah plastik,” tandasnya.