Gagal Panen Jagung, Petani di Sikka Tanam Kacang Hijau

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Serangan hama ulat grayak dan kekeringan berkepanjangan membuat para petani jagung di Kecamatan Kangae yang jadi sentra produksi jagung di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menanam kacang hijau.

Namun banyak petani yang tidak menanam kacang hijau di semua lahan pertanian yang dimiliki karena stok bibit terbatas karena bibit yang dimiliki terpaksa dijual untuk membeli beras dan dikonsumsi sendiri.

“Saya hanya menanam kacang hijau tidak sampai setengah dari luas lahan yang saya miliki seluas seperempat hektare,” tutur Yuliana Eligita petani jagung di Desa Habi kecamatan Kangae saat ditemui dikebunnya, Senin (20/4/2020).

Yuliana Eligita, petani jagung di Desa Habi saat ditemui di kebunnya, Senin (20/4/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Eli sapaannya menyebutkan, dirinya tidak mendapat bantuan bibit kacang hijau dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka sehingga hanya seperempat lahan saja yang ditanami karena stok bibit sebagian sudah dijual untuk membeli beras dan dicampur beras untuk dikonsumi sendiri.

Biasanya kata dia, sehabis panen petani menyisihkan jagung dan kacang hijau untuk bibit bagi musim tanam berikutnya bila tidak mendapatkan bantuan benih dari pemerintah melalui Dinas Pertanian.

“Biasanya petani menanam kacang hijau pertengahan bulan Februari saat jagung mulai berbunga. Tahun ini terpaksa ditunda karena kekeringan dan tidak ada hujan sehingga jagung pun mengalami gagal panen,” jelasnya.

Eli mengaku menanam kacang hijau bulan Maret setelah ada hujan namun awal tanam dirinya terpaksa membawa air dari rumahnya untuk menyiram bibit tanaman karena hujan tak kunjung turun.

Dia menyebutkan, seharusnya pertengahan atau paling lama akhir bulan Januari pemerintah sudah membagi bibit kacang hijau mengingat tanaman jagung sudah diprediksi mengalami gagal panen akibat terserang hama ulat grayak dan kekeringan berkepanjangan.

Dirinya mengakui musim tanam 2019/2020 dari total lahan seluas seperempat hektare dirinya hanya mendapatkan hasil panen 50 kogram jagung saja dan tongkolnya berukuran kecil sehingga hanya beberapa butir jagung saja dalam satu tongkolnya.

“Satu lubang saya tanam 4 jagung tapi hanya satu dua pohon saja yang berbuah.Itu pun hanya beberapa tongkol jagung saja dalam satu pohonnya.Hasilnya hanya 10 persen saja tahun ini sehingga petani pasti kekurangan bahan pangan,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha mengatakan dinasnya telah menganggarkan dana dari APBD  untuk mengatasi masalah petani terkait pandemi Covid-19 yang sedang melanda.

Mauritz menyebutkan, dianggarkan dananya sebesar Rp7 miliar untuk membantu petani terutama di daerah yang ada airnya dan daerah pegunungan yang ada embun.

“Kami memberikan bantuan pupuk, benih padi dan jagung. Bantuan ini untuk wilayah yang ada air dan irigasinya saja agar bisa ditanami,” jelasnya.

Lihat juga...