Erupsi GAK Sebabkan Peningkatan Volume Sampah di Pantai
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda pada Jumat (10/4/2020), berimbas pada sejumlah pantai mengalami peningkatan volume sampah.
Rohmat, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ragom Helau, pengelola pantai Belebuk dan pulau Mengkudu, menyebut sampah yang terdampar meningkat dibanding kondisi normal sejak erupsi GAK.
Material sampah yang terdampar ke pantai, menurutnya didominasi oleh plastik dan kayu. Tambahan batu apung yang mengambang di laguna pulau Mengkudu dan perairan pantai Belebuk, terjadi saat pagi hari. Berbagai material sampah terbawa oleh arus dan gelombang, karena saat terjadi erupsi GAK arus laut sedang mengarah ke timur.

“Volume sampah pada area pantai Belebuk dan Mengkudu diperkirakan mencapai satu ton. Pekan sebelumnya pengelola telah melakukan pembersihan sampah di wilayah tersebut. Namun imbas gelombang dan bersamaan dengan erupsi GAK, penambahan volume sampah lebih meningkat. Aroma belerang atau sulfur berasal dari batu apung,” kata Rohmat ditemui Cendana News, Sabtu (11/4/2020).
Menurutnya, muntahan batu apung merupakan lava yang semula panas, lalu membeku menjadi batu berongga memiliki aroma sulfur ikut terbawa arus bersama sampah plastik, kayu dan membuat kotor sejumlah pantai yang digunakan sebagai objek wisata.
Rohmat memprediksi, volume sampah akan mencapai puncaknya pada sore ini. Sebab, usai angin bertiup ke arah timur perubahan arus akan berbelok ke arah barat. Sampah perairan laut akan terbawa arus laut dan terdampar di sejumlah pantai pesisir barat. Beruntung, selama volume sampah meningkat pada objek wisata bahari tersebut tidak ada pengunjung.
Penutupan (lockdown) objek wisata pantai Belebuk dan pulau Mengkudu telah dilakukan sejak 16 Maret hingga waktu tidak ditentukan. Meski tidak ada pengunjung, pembersihan sampah perairan tetap dilakukan.
Sejumlah petugas yang berjaga di objek wisata pulau Mengkudu, menurutnya harus menggunakan masker. Sebab aroma belerang yang tercium bisa mengakibatkan mual.
“Batu apung bercampur sampah yang terdampar mengakibatkan aroma kurang sedap, bisa mual sehingga harus pakai masker,”cetusnya.
Sejumlah warga di sekitar pantai Belebuk dan warga Desa Totoharjo,m menurutnya masih beraktivitas normal. Sejumlah pekerja yang melakukan proses land clearing untuk pembangunan kawasan wisata di dekat pulau Mengkudu, bahkan tetap bekerja. Rohmat menyebut, erupsi GAK merupakan hal yang normal karena masih tetap aktif. Meski demikian, risiko volume sampah perairan membuat kotor sejumlah pantai.
Warsiem, salah satu warga Desa Totoharjo mengaku tidak kuatir akan aktivitas erupsi GAK. Ia bahkan memilih mempergunakan waktu untuk mencari kerang di pantai tersebut. Gugusan pulau Mengkudu, pulau Sekepol menjadi benteng alami bagi pantai di wilayah tersebut. Meski sempat mendengar suara dentuman saat erupsi GAK pada Jumat (10/4) malam, ia tetap berada di rumahnya.
Selain mencari kerang, di pantai Belebuk itu Warsiem juga mencari lumai, yaitu rumput laut yang tumbuh di batuan karang. Namun setelah erupsi GAK sejumlah batuan karang tempat tumbuh lumai dikotori oleh batu apung dan sampah.