Covid-19 Turunkan Daya Beli Produk Pertanian di Sikka
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Merebaknya wabah Covid-19 membuat petani pun terkena dampak karena terjadinya penurunan daya beli hasil pertanian yang mengakibatkan hasil pertanian seperti sayur-sayuran dan tanaman holtikultura sulit terjual semua.
Kondisi petani di kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kian parah mengingat untuk dataran rendah banyak tanaman jagung yang mengalami gagal panen karena serangan hama ulat Grayak dan kekeringan.
“Kalau jagung pasti kami alami gagal panen. Kami mau tanam sayur-sayuran untuk konsumsi sendiri namun sulit karena tidak ada air,” kara Yosef Hersen, petani di kecamatan Alok Barat, Senin (27/4/2020).
Yosef mengatakan, kalau ada dana bantuan untuk menggali sumur mungkin petani bisa menanam aneka sayuran dan jagung saat musim kemarau tiba, apalagi di tengah pandemi Corona ini.
Dirinya mengaku hanya bisa pasrah sebab panen jagung juga banyak tanaman yang mengalami kerusakan akibat terserang hama ulat Grayak. Seharusnya pemerintah kata dia, bisa memberikan bantuan bibit kacang hijau dan menggali sumur.
“Kalau sumur di kecamatan Alok Barat paling hanya 3 meter dalamnya. Paling kami pakai timba saja dan bisa dipergunakan untuk mengairi areal tanaman sayuran dan jagung, kalau sumur tersedia,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, NTT, Mauritz da Cunha, mengatakan, untuk bantuan kepada petani di saat wabah Covid-19 pihaknya hanya mengalokasikan anggaran Rp7 miliar untuk tanaman pangan.

Mauritz sebutkan, bantuan lebih difokuskan kepada kelompok tani yang ada utuk menanam tanaman pangan guna mencegah terjadinya rawan pangan seperti jagung, kacang hijau, singkong serta pisang.
“Bantuan hanya diberikan untuk areal pertanian yang masih ada airnya dan bisa ditanami. Juga untuk lahan pertanian di daerah pegunungan yang masih ada embun dan hanya untuk tanaman pangan,” ujarnya.
Dinas Pertanian pun tambah Mauritz, mengalokasikan bantuan untuk peternak berupa ayam kampung bibit unggul yang berumur 4 bulan sudah bisa dipanen. Bantuan akan diberikan kepada petani yang mengalami dampak Covid-19.
Dirinya mengatakan, bantuan memang kecil karena pihaknya hanya fokus untuk menjaga agar pangan tersedia di daerah terutama pangan lokal. Daerah yang tanaman perkebunannya ada intervensi dari bantuan dana dinas sosial dan dana desa.
“Tugas kami hanya mengantisipasi ketersediaan pangan di masyarakat terutama petani. Penyuluh pertanian juga masih bekerja seperti biasa untuk mendampingi petani,” terangnya.
Tanaman holtikultura seperti tomat dan cabai kata Mauritz, banyak yang sudah panen raya, tetapi tidak bisa menjual. Dia menyarankan agar dijual lokal saja bila perlu dari rumah ke rumah biar sedikit yang penting bisa terjual.
“Memang pasar produk pertanian terutama holtikultura sepi pembeli karena daya beli masyarakat menurun. Maka banyak sayuran yang banyak tidak terjual karena pembeli di pasar juga sepi,” pungkasnya.