173 Bekas Penumpang KM Lambelu Ditetapkan OTG
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Sebanyak 173 orang bekas penumpang kapal Pelni KM Lambelu yang bersandar di pelabuhan Laurens Say Maumere, Selasa (7/4/2020), akhirnya ditetapkan sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG).
Penetapan status OTG ini dilakukan, menyusul pengumuman dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulwesi Selatan, yang mengatakan dari 42 Anak Buah Kapal (ABK) yang diperiksa, sebanyak 26 orang dinyatakan positif Corona.
“Setelah hasil tes diumumkan Gugus Tugas Percepetan Penanganan Covid-19 Sulawesi Selatan, maka 173 bekas penumpang KM Lambelu statusnya kita naikan menjadi Orang Tanpa Gejala (OTG),” kata juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, Senin (13/4/2020).
Menurut Petrus,mereka dinaikan statusnya menjadi OTG karena semua penumpang tersebut berada di tempat yang sama dalam beberapa hari, makan dan menggunakan fasiitas yang sama serta dilayani oleh ABK yang sama.

“Mereka semua berada dalam satu kapal serta makan minum dan berinteraksi. Dengan demikian, semua penumpang berpotensi terkontaminasi,” ungkapnya.
Petrus mengatakan, bahwa ia sudah menyampaikan kepada Bupati Sikka agar dilakukan pemisahan antara setiap penumpang dan semua kebijakan itu ada di tangan Bupati.
Dirinya mengatakan, seorang warga dusun Belawuk, desa Nebe, berinisial VB, bersama istrinya sudah dimasukkan ke ruang isolasi RS TC Hillers Maumere, sementara kedua orang tuanya masih ditempatkan di gedung Sikka Convention Center (SCC).
“Kemarin mereka semua satu keluarga sudah dijemput dari desanya, dan dibawa ke gedung SCC yang menjadi lokasi karantina terpusat, yang juga ditempatkan bekas penumpang KM Lambelu,” terangnya.
Lelaki berinisial VB ini, jelas Petrus, selama di Bali berhubungan dengan pasien positif pertama EA asal Alor, di mana dia mengaku bersaudara dengan lelaki asal desa Nebe, kecamatan Talibura tersebut.
Seorang warga desa Nebe, Lut, mengatakan warga desa Nebe tersebut tiba dari Bali menggunakan sepeda motor melewati jalan darat bersama istrinya, dan tiba di dusun Belawuk B, desa Nebe pada Jumat (10/4/2020).
Lut mengatakan,VB tinggal bersama kedua orang tuanya dan dirinya pernah tinggal di Alor bersama omnya, dan dulu pernah tinggal di desa Nebe sebelum merantau ke Bali dan bekerja di sana.
“Hari Sabtu (11/4/2020), petugas dari puskesmas dan aparat keamanan telah datang ke rumahnya dan membawa mereka semua ke gedung SCC di Maumere untuk dikarantina. Rumah mereka pun telah kosong,” ungkapnya.