Target Produksi Pangan di Sumbar Turun 1 Juta Ton

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat memilih untuk tidak memasang target yang besar dalam hal jumlah produksi panen komoditi pertanian. Kini jumlah produksi pangan yang dipasang 2,8 juta ton per tahun.

Jumlah yang demikian jika dibandingkan dengan tahun lalu, target yang di pasang capai 2,9 juta ton per tahun. Artinya di tahun 2020 ini jumlah target produksi turun sebesar satu juta ton per tahunnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, mengatakan, meski target produksi pangan menurun, selama ini produksi pangan selalu berada di atas jumlah target. Sehingga meski secara jumlah target turun, tapi melihat kondisi pertanian yang dominan bagus, angka produksi terbilang baik.

“Kami optimis pertanian masyarakat selalu membaik. Target yang kita tetapkan untuk memacu petani agar tidak membiarkan lahan untuk tidur” katanya, Senin  (9/3/2020).

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, saat diwawancarai awak media di Padang, Senin (9/3/2020. -Foto: M. Noli Hendra

Ia menyebutkan pemerintah telah mensosialisasikan kepada masyarakat yang memiliki lahan agar jangan dibiarkan tidur. Terutama untuk lahan berpotensi produktif, juga perlu dicoba untuk diolah, baik itu tanaman padi, jagung, kacang hijau, maupun tanaman pangan lainnya.

Menurutnya, agar produksi pangan di Sumatera Barat terus membaik, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat juga bakal mendistribusikan ratusan alat pertanian atau alsintan, serta menyediakan benih. Semua itu akan diberikan untuk kelompok tani, bukan dalam bentuk per orangan.

“Berbicara pertanian, pemerintah tidak akan melepas tangan. Bantuan tetap diberikan, dan itu dilakukan setiap tahunnya,” ujarnya.

Candra menjelaskan saat ini luas lahan sawah yang ada di Sumatera Barat mencapai 600 ribu hektare. Artinya dengan luas lahan yang demikian, diperkirakan akan mampu memproduksi padi hingga 2,8 juta ton. Untuk itu, seiring ada nya pembukaan lahan sawah baru, jumlah produksi di masa mendatang akan bertambah.

“Tidak hanya tentang adanya upaya menambah luas lahan sawah. Melalui sistem tanam legowo juga dinilai telah membuat produksi pada jadi bertambah. Seperti hal yang dirasakan kini, ada seluas 870 haktare sawah di sejumlah daerah di Sumatera Barat yang telah melakukan tanam legowo,” ujarnya.

Menurutnya, daerah-daerah yang sejauh ini telah menjalani sistem tanam padi legowo itu berada di Kabupaten Solok Selatan, Pasaman, Sijunjung, Pesisir Selatan, Solok, dan beberapa tempat di Kota Padang. Jenis padi yang ditanam pun bervariasi, seperti padi gogo/cimpago.

Dikatanya, dua jenis padi itu dinilai mampu menambah produksi padi, terutama untuk daerah ketinggian dari permukaan laut seperti Kabupaten Solok Selatan dan Solok. Di dua daerah itu, panen padinya sangat bagus, sehingga memberikan keuntungan yang besar bagi petaninya.

Sementara itu, salah satu petani di Surantih, Pesisir Selatan, Aldi, mengatakan, tahun ini banyak petani yang lambat untuk memulai turun ke sawah. Hal ini dikarenakan adanya tak kunjung turunnya hujan.

Biasanya, petani telah memperhitungkan bahwa di momen Ramadan, seluruh padi yang telah dipanen. Namun kini, melihat sekitar awal tahun yang lalu baru turun ke sawah, diperkirakan di momen Ramadan dan lebaran, barulah masuk masa panen.

“Biasanya di Ramadan petani sudah selesai panen. Sekarang sepertinya kita harus momen di momen Ramadan dan lebaran,” sebutnya.

Kendati terbilang agak telat turun ke sawah, petani setempat telah mengambil langkah setelah panen nanti, akan langsung turun ke sawah lagi, untuk memulai lagi bertani. Direncanakan, usai lebaran nanti, petani akan mulai bertani kembali.

“Soal produksi kita optimis bagus, karena biasanya lahan yang lama tidak olah, memiliki kondisi tanaman yang bagus. Kita berharap, cuaca hujan dan panas saling bergantian, sehingga panen membaik,” harapnya.

Lihat juga...