PAK HARTO: SIKLUS HIDUP MANUSIA DAN MANUSIA PANCASILA
Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto dalam berbagai kesempatan kerap menasehati tentang siklus kehidupan manusia, dari alam Purwo (sebelum lahir di dunia), alam Madyo (semasa hidup di dunia) dan alam Wasono (hidup setelah kehidupan di dunia).
Salah satunya saat Temu Wicara Presiden Soeharto dengan Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional IV JCC, 21 Agustus 1995. Pak Harto menyebutkan, di alam Purwo selama 9 bulan 10 hari, mulai dari pada wujud janin yang belum berbentuk sampai menjadi jabang bayi, di situlah proses Tuhan menciptakan, dengan memberikan perlengkapan hidup, perlengkapan yang sama setiap manusia, yakni panca indra.
Di samping panca indra, manusia juga diberikan perlengkapan lain, yakni Cipta, Rasa dan Karsa sebagai daya kekayaan manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya setelah lahir ke dunia.
Saat hadir ke dunia, manusia juga memiliki sifat kodrati, yakni makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Meski dilahirkan sebagai makhluk individu, namun kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari kodrat lainnya, sosial. Sejak mulai pertama lahir ke dunia hingga meninggal akan selalu tergantung kepada orang lain.
Dalam kehidupan sosial, harus mampu memenuhi kewajibannya lebih besar dengan mendahulukan kepentingan yang lebih besar dibandingkan dirinya sendiri. Seperti halnya kepentingan keluarga lebih penting dibandingkan kehidupan pribadi. Kepentingan masyarakat lebih diutamakan dibandingkan kepentingan keluarga. Kepentingan negara lebih diutamakan dibandingkan kepentingan masyarakat.
Di Indonesia yang beridiologi Pancasila, masyarakat dituntut menjadi manusia Pancasila, yang bersedia mengorbankan kepentingan pribadi untuk tegaknya lima sila dalam Pancasila.
Kunci pokok daripada penghayatan pengamalan Pancasila adalah Eka Prasetya Panca Karsa yang telah dirumuskan dalam P4 dan telah diputuskan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Eka Prasetya adalah tekad satu, mengorbankan kepentingan diri untuk memenuhi kepentingan lebih besar dalam mewujudkan panggilan daripada lima sila, nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan hingga nilai-nilai keadilan sosial.
Narasi ini bagian dari Temu Wicara Presiden Soeharto dg Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional IV JCC, 21 Agustus 1995.