Daun Kedelai Edamame Kaya Protein, Cocok untuk Pakan Ternak

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Selain memiliki keunggulan nilai jual yang tinggi, perawatan yang mudah serta masa panen yang singkat, komoditas kedelai Edamame ternyata juga masih memiliki sejumlah kelebihan lain yang bila mampu dimanfaatkan akan sangat menguntungkan bagi petani.  

Kelebihan itu adalah pemanfaatan kedelai hasil panen, maupun daun sisa hasil panen menjadi berbagai macam jenis produk turunan yang menguntungkan dan bernilai ekonomi cukup tinggi.

Ketua tim teknis uji coba penanaman kedelai Edamame Trirenggo, Budi Santoso di sela panen perdana, pada Jumat (28/2/2020). -Jatmika H Kusmargana

Ketua tim teknis uji coba penanaman kedelai Edamame Trirenggo, Budi Santoso, menyebut kedelai Edamame sangat digemari di negara Jepang karena kandungan proteinnya yang sangat tinggi. Dari penelitian yang ia lakukan, ternyata, kandungan protein itu tidak saja terdapat pada kacang/polongnya saja namun juga pada daun maupun batangnya.

“Karena itu sisa hasil panen seperti daun, sebenarnya jangan langsung dibuang. Karena masih bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Seperti misalnya untuk pakan ternak seperti sapi, kambing atau ikan gurami. Daun kedelai Edamame ini sangat cocok sebagai pakan karena kandungan proteinnya yang dangat tinggi,” ujarnya belum lama ini.

Tak hanya itu, lanjut Budi jika diolah lebih lanjut kedelai Edamame sebenarnya juga bisa dimanfaatkan menjadi sejumlah produk makanan dengan nilai jual lebih tinggi jika dibandingkan dijual mentah sebagai sayur. Diantaranya seperti bahan pembuat es krim, isi kue moci hinga isi kue bakpia. Lagi-lagi hal itu karena kandungan protein kedelai Edamame yang sangat tinggi.

“Ini merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus bisa kita manfaatkan. Karena jika berhasil tentu akan sangat menguntungkan bagi para petani,” katanya.

Ditanya soal kendala, Budi menyebut kedelai Edamame sebenarnya tergolong sebagai tanaman yang mudah dalam hal penanaman maupun perawatan. Satu-satunya kendala mungkin lebih pada proses panen yang harus dilakukan dalam tempo yang singkat. Sehingga lebih membutuhkan tenaga dibandingkan komoditas pertanian lain.

“Mungkin yang agak ribet adalah saat panen. Karena begitu dipanen harus segera dikirim untuk dijual. Misal pagi dipanen sorenya harus segera dikirim. Agar kedelai bisa dijual dalam kondisi segar,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui KUD Gemah Ripah yang merupakan koperasi binaan Yayasan Damandiri bersama Gapoktan Trirenggo saat ini tengah mengembangkan komoditas kedelai Edamame di Desa Cerdas Mandiri Lestari Trirenggo. Kedelai Edamame dipilih karena memiliki sejumlah kelebihan mulai dari nilai jual yang tinggi, perawatan yang mudah, serta masa panen relatif singkat yakni selama 65 hari.

Berbagai kelebihan itulah yang membuat KUD Gemah Ripah bersama Gapoktan Trirenggo berupa mendorong petani menanam kedelai Edamame dilahan pertanian mereka. Tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pengasihan atau pendapatan petani di Desa Trirenggo.

Lihat juga...