BUMDes Bina Warga Gunakan Maggot untuk Reduksi Sampah

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Persoalan pencemaran lingkungan jadi perhatian serius pemerintah desa Pasuruan, Lampung Selatan. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sampah direduksi menggunakan metode biologis.

Nasrulah, ketua Bumdes Bina Warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memperlihatkan produksi paving blok berbahan plastik memanfaatkan sampah pasar, Rabu (11/3/2020). Foto: Henk Widi

Ketua BUMDes Bina Warga, Nasrulah menyebutkan, program kurangi, pisahkan dan manfaatkan dilakukan agar lingkungan bersih. Metode biologis yang digunakan memakai larva lalat jenis Black Soldier Fly (BSF). Lalat buah yang menyukai buah, sayuran busuk tersebut menghasilkan larva maggot yang efektif mereduksi sampah.

“Petugas kebersihan, pedagang pasar sudah diedukasi agar melakukan pemilahan organik dan nonorganik karena akan kita olah menjadi sejumlah produk sebagai upaya mereduksi sampah,” terang Nasrulah saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (11/3/2020).

Rata rata sampah pasar yang dihasilkan perhari untuk dimanfaatkan mencapai 2 kuintal. Jenis yang dimanfaatkan berupa kertas karton, plastik kemasan makanan, botol.

“Bumdes menggunakan alat pengangkut khusus untuk membawa sampah ke lokasi pemilahan, sebagian jadi pakan maggot, dibuat kompos dan diolah menjadi paving block,” cetus Nasrulah.

Jenis sayuran, buah yang telah dipilah akan dicacah pada sejumlah ember yang telah diberi larva maggot. Berdasarkan pengalaman, 10.000 maggot bisa menghabiskan sekitar 1 kilogram sampah dalam waktu 24 jam dan mengurainya menjadi kompos.

Saat ini Bumdes Bina Warga imbuh Nasrulah telah membuat media pereduksi sampah organik dalam jumlah banyak. Sebab fase perkembangan larva maggot akan berubah menjadi lalat tentara hitam.

Pada saat larva akan bertumbuh menjadi lalat disediakan tempat khusus yang diberi strimin. Metamorfosa tersebut akan dimanfaatkan untuk mengolah sampah dan sebagian dijadikan maggot beku dan kering sebagai bahan pakan.

“Maggot memiliki protein tinggi, gizi yang baik untuk pakan unggas, ikan sehingga bisa disimpan dengan cara dikeringkan atau dibekukan,” bebernya.

Sugeng Hariyono, aparatur Desa Pasuruan menyebut sampah organik yang tidak terurai maggot bisa diurai pada komposter. Alat komposter merupakan drum plastik yang diberi EM4 sebagai zat pengurai. Dalam satu drum komposter bisa menampung sebanyak 150 kilogram sampah organik. Hasilnya dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan menghasilkan pupuk organik cair (POC).

“Selain organik cair komposter juga menghasilkan sampah padat yang bisa dijadikan pupuk, bisa disatukan dari hasil reduksi yang dimakan maggot,” tutur Sugeng Hariyono.

Tingkat efektifitas penggunaan maggot disebut Sugeng Hariyono sangat baik. Sebab bisa mengurangi sampah tanpa menimbulkan aroma tidak sedap. Selain itu hasil maggot, pupuk organik cair dan pupuk kompos akan dijual bagi konsumen.

Nilai ekonomis akan memberikan pendapatan bagi Bumdes Bina Warga dari pengelolaan sampah sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Lukman, pedagang sayuran dan buah di pasar tradisional Pasuruan mengaku kini sampah tidak terbuang percuma. Sebab petugas dari Bumdes telah memberikan edukasi. Sampah yang telah dikumpulkan akan diambil setiap hari untuk dibawa ke lokasi pengolahan. Proses pengambilan secara rutin membuat lingkungan pasar selalu bersih dan mencegah lalat beterbangan.

Lihat juga...