Budidaya Bambu di Lamsel Dukung Sektor Usaha Perikanan
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Keberadaan bambu yang dibudidayakan mendukung usaha kecil perikanan di pesisir barat dan timur Lampung Selatan (Lamsel). Berbagai jenis alat dapat tercipta dan sangat mendukung nelayan, seperti ayakan, serok, cekeng, tenggok, kalo, para-para hingga tonggak.
Januri, pemilik usaha pembuatan teri, ikan asin rebus di Kelurahan Kalianda menyebutkan, dalam menjalani usahanya, ia membutuhkan sejumlah alat dari bambu. Pasokan peralatan itu diperoleh dari pemilik kebun yang sekaligus produsen alat berbahan bambu.
Dikatakan, cekeng merupakan keranjang kecil dari anyaman bambu tali untuk proses perebusan ikan, teri yang akan dikeringkan. Saat produksi melimpah, dibutuhkan sekitar 200 hingga 300 buah.
“Mata rantai usaha pembuatan teri, ikan asin terbantu kelestarian kebun bambu. Sebagian dibuat menjadi peralatan pendukung bagi kelompok pengolah dan pemasaran hasil perikanan,” ungkap Januri saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (3/3/2020).
Alat jenis tenggok yang berukuran lebih besar menurut Januri digunakan untuk pemilahan ikan asin dan teri kering. Penggunaan alat dari bambu disebutnya lebih murah dan praktis.
Harga cekeng bagi usaha pembuatan teri, ikan asin rebus hanya Rp3.000. Harga tersebut lebih murah dibandingkan cekeng plastik yang dijual Rp10.000 juga sulit diperbaiki saat rusak.
Sebaliknya cekeng bambu lebih murah, mudah diperbaiki saat terjadi kerusakan. Cekeng yang rusak tahap pertama masih bisa diperbaiki dengan bambu yang sudah dibelah tipis.
“Cekeng dan peralatan dari plastik akan menimbulkan sampah yang sulit terurai sehingga kami tinggalkan, di samping harga yang mahal,” tutur Januri.
Bagi nelayan budidaya rumput laut,kerang hijau, bambu dipakai sebagai tonggak tempat hidup kerang hijau dan memasang tali jalur rumput laut.
“Efesiensi dan kepraktisan memakai peralatan produksi, sarana budidaya menjadikan bambu jadi pilihan,” beber Januri.
Iman, pembudidaya bambu sekaligus pengrajin peralatan mengaku cukup diuntungkan. Sebab memiliki lahan di tepi aliran sungai Way Asahan membuat tanamannya subur. Proses pemanenan menyesuaikan kebutuhan.
“Pemesan kerap menginginkan bambu utuh, bambu yang sudah dibelah atau sudah menjadi peralatan cekeng dan alat lain,” tuturnya.
Harga termurah dari hasil olahan bambu menurutnya berupa ajir atau tonggak untuk pertanian. Ajir untuk menanam cabai, kacang, mentimun kerap dijual seharga Rp500 per batang. Bambu utuh sepanjang sekitar delapan meter dijual Rp5.000, sementara jenis alat cekeng, tenggok dan alat lain dijual mulai Rp3.000 hingga Rp30.000.