Tahan Genangan dan Hama, Petani Lamsel Tanam Padi Ciherang

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Memasuki masa tanam pertama (MT1), petani di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) pilih tanaman tahan genangan dan hama. Kasidi, petani di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang menyebut masa tanam pertama didominasi curah hujan tinggi bahkan banjir. Mengantisipasi kerugian akibat kondisi alam, ia dan sejumlah petani menanam padi varietas Ciherang.

Varietas padi Ciherang menurut Kasidi telah diperkenalkan oleh penyuluh pertanian, Dinas Pertanian Lamsel sejak awal 2002 silam. Kala itu ia masih menanam padi varietas lain yang kerap rusak saat musim penghujan atau rendengan. Pasalnya penanam padi di wilayah tersebut menanam padi di dekat aliran Sungai Gajah Mati. Saat banjir luapan air sungai mengakibatkan genangan.

Kasidi (bercaping) melakukan proses ndaut atau mempersiapkan bibit padi varietas Ciherang yang akan ditanam untuk musim penghujan, Senin (10/2/2020). -Foto: Henk Widi

Potensi genangan air menurut Kasidi berimbas padi busuk, mati. Imbasnya petani harus melakukan penanaman ulang. Varietas padi yang mudah rusak mengakibatkan kerugian waktu dan biaya operasional. Semenjak diperkenalkan, Kasidi mendapat bantuan sebanyak empat kampil benih. Satu kampil benih berisi sebanyak 5 kilogram sehingga ia menanam sekitar 20 kilogram benih padi Ciherang.

“Kualitas bibit yang bersertifikat membuat petani yakin dengan adanya pendampingan dari penyuluh sehingga pada tahap penanaman awal sukses, hasil panennya sebagian dijadikan benih untuk penanaman tahap selanjutnya,” ungkap Kasidi saat ditemui Cendana News, Senin (10/2/2020).

Padi varietas Ciherang sesuai namanya berasal dari wilayah Jawa Barat. Ia menyebut padi itu merupakan hasil persilangan sejumlah jenis padi IR 64. Keunggulan varietas Ciherang menurutnya cocok ditanam saat musim rendengan dengan curah hujan tinggi. Selain itu saat musim kemarau dengan kondisi air kurang padi dengan tinggi mencapai satu meter ini sangat cocok.

Pilihan menanam padi sawah varietas Ciherang menurut Kasidi karena ketahanan pada penyakit. Jenis organisme pengganggu tanaman (OPTK) jenis wereng coklat,  hawar daun bakteri. Penanaman padi pada lahan seluas satu hektare dengan pola penanganan yang baik menurutnya bisa menghasilkan hingga 8 ton perhektare. Jenis beras yang dihasilkan dari varietas Ciherang menurutnya cukup pulen.

“Pilihan pertama petani menanam padi varietas Ciherang adalah keunggulan tahan genangan saat rendengan,” beber Kasidi.

Dibanding benih padi varietas lain, Ciherang memiliki bibit yang tinggi saat ditanam. Potensi ketinggian hingga 1 meter saat memasuki masa berbulir membuat petani menanam padi tersebut dengan sistem jajar legowo. Sebab dengan sistem penanaman rapat padi berpotensi roboh. Terlebih wilayah lahan pertanian warga Desa Ruguk berhadapan dengan pesisir timur Lamsel yang rawan angin kencang.

“Tanaman padi Ciherang cukup tinggi dibanding padi IR 64 sehingga rawan roboh,cara menyiasatinya kerap diikat saat berbuah,” cetusnya.

Astuti (tengah) petani di Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan menanam bibit padi varietas Ciherang saat musim penghujan, Senin (10/2/2020). -Foto: Henk Widi

Pemilik lahan sawah di desa yang sama, Astuti menyebut Ciherang mudah ditanam. Sebab benih yang tinggi saat usia 25 hari memudahkan proses tanam atau tandur. Genangan air yang cukup tinggi saat masa tanam membuat bibit akan selalu terendam air. Hingga sebulan hari setelah tanam (HST) bibit berpotensi akan selalu tergenang air.

Pada padi varietas lain, Astuti menyebut genangan air pada sawah mengakibatkan busuk batang. Namun batang dan daun yang keras membuat varietas Ciherang tahan. Memasuki proses pemupukan yang dilakukan saat usia 25 hari, benih padi menurutnya masih akan terendam air. Petani kerap melakukan proses mengeringkan petak sawah sementara waktu untuk proses penebaran pupuk.

“Buruh tanam yang melakukan upahan juga lebih mudah menanam karena bibit cukup panjang mudah ditancapkan,” tegas Astuti.

Lahan penanaman padi di wilayah Lamsel yang didominasi dataran rendah menurutnya cocok ditanami varietas Ciherang. Memiliki bobot sekitar 30 gram untuk setiap 1000 butirnya membuat produktifitas padi cukup tinggi. Pada masa tanam kedua (MT2) atau gadu ia masih menanam Ciherang dengan hasil sekitar 6 ton. Hasil yang kurang maksimal disebutnya imbas dari hama burung pipit.

Hasil gabah kering panen (GKP) padi varietas Ciherang menurutnya memiliki harga yang baik. Sebab saat panen ia menjual padi varietas Ciherang dengan harga Rp4.800 hingga Rp5.000 perkilogram. Menjual sekitar dua kuintal saja ia bisa mengantongi uang Rp2juta. Beras varietas Ciherang yang pulen membuat ia kerap menjualnya setelah proses penggilingan sebagian dipakai untuk kebutuhan keluarga.

Lihat juga...