Empat Daerah di Sumbar Cocok untuk Berkebun Bawang Putih
Editor: Makmun Hidayat
PADANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berupaya untuk mengurangi kebutuhan terhadap bawang putih impor, dengan cara melakukan gerakan berkebun bawang putih di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, mengatakan, dari ketentuan untuk bisa berkebun bawang putih itu, ada empat daerah yang dinilai cocok berkebun bawang putih, yaitu Kabupaten Solok, Agam, Tanah Datar, dan di pegunungan Pasaman.

Empat daerah itu memiliki tempat dengan ketinggian melebihi 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sesuai dengan ketentuan berkebun bawang putih, bahwa bawang putih akan tumbuh dengan bagus apabila memiliki suhu udara yang tidak kering atau panas. Untuk mencapai kondisi itu, harus melebihi 800 mdpl.
“Batasan tertinggi itu 1200 mpdl, karena kalau terlalu dingin lembab, tanaman bawang bisa tumbuh membusuk. Nah, empat daerah yang dimaksud, cocok untuk melakukan tanaman bawang putih,” katanya, Senin (10/2/2020).
Di Sumatera Barat saat ini telah melakukan penanaman perdana pada bulan Oktober – November 2019 lalu. Panen perdana nya pun akan dilakukan pada tanggal 20 Februari 2020 nanti, setelah dilakukan 100 hari masa tanam.
Bawang putih yang ditanam di lahan Sumatera Barat tidaklah semua jenis bawang putih yang dinilai cocok, tapi hanya bisa untuk bawang putih jenis lumbu hijau. Tapi, kata Candra, panen bawang putih perdana yang dilakukan itu tidaklah langsung untuk dijual ke pasar, melainkan dijadikan untuk bibit.
“Di Kabupaten Tanah Datar akan panen itu, tapi tidak semuanya dijual. Ada untuk dijadikan bibit, karena menginginkan luas lahan perkebunan bawang putih terus bertambah. Supaya kita bisa mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bawang impor,” ujarnya.
Untuk itu, Pemprov Sumatera Barat akan terus berupaya akan komoditi bawang putih itu bisa tumbuh dan berkembang. Seperti di daerah Tanjung Alam Kabupaten Tanah Datar, ada 127 hektare lahan yang tersedia.
“Kita tentunya akan membantu dari segi penyediaan bibit serta ada petugas penyuluh petanian di lapangan. Mudah-mudahan dengan adanya pengembangan ini, Sumatera Barat tidak kekurangan akan bawang putih,” sebutnya.
Candra optimis, penanaman bawang putih di Sumatera Barat bisa menekan angka impor bawang putih selama ini. Pemprov Sumatera Barat menargetkan permasalahan bawang putih di wilayah setempat selesai tahun 2021 mendatang, dan menjadi salah satu sentral bawang putih dengan target tanam seluas 6.000 hektare.
“Sebagai antisipasi agar kedepan tidak terjadi lonjakan harga bawang putih dan tidak lagi mengandalkan impor dari Cina. Saat ini Pemerintah Pusat sudah menyetop impor produk hortikultura termasuk bawang putih dari Cina, untuk sementara waktu, disebabkan adanya wabah virus corona,” tegasnya.
Menurutnya, untuk panen bawang putih varietas lumbu hijau ini diperkirakan, hasil panennya mencapai empat hingga enam ton untuk satu hektare. Apabila panen tersebut dapat mencapai rata-rata dalam 1 hektar mengalami penyusutan hingga 60 persen, atau bisa menghasilkan 19,2 ton per hektare dengan harga Rp15 ribu per kilogram Rp280 juta per hektar.
Menurutnya pengembangan lahan ini bertujuan meningkatkan produksi lokal akan komoditas bawang putih, yang sebelumnya telah menargetkan tahun 2021 menjadi. Sentral bawang putih dengan target tanam seluas 6.000 hektare dengan harapan Sumatera Barat tidak lagi butuh bawang putih impor.
Namun Candra mengakui ada permasalahan kini di Sumatera Barat, yakni petani kurang meminati tanam bawang putih. Hal ini dikarenakan panen bawang putih lebih lama dari bawang merah.
Selain itu, harga bawang putih ditingkat petani belum jelas, dan masih banyak petani kurang memahami proses penanaman, budidaya, dan perawatannya.
Selanjutnya Candra segera menyiapkan langkah langkah strategis pasca panen perdana. Seperti, menyiapkan bibit bawanh putih diprioritaskan menjadi produk unggulan.