Siak Pertahankan Lahan Persawahan Seluas 5.000 Hektare

Ilustrasi sawah-Dok: CDN

PEKANBARU – Kabupaten Siak, Provinsi Riau tetap mempertahankan pengelolaan lahan persawahan seluas 5.000 hektare yang ada di daerahnya, agar produksi padi tetap terjaga.

“Terluas persawahan di Bunga Raya, ada 2.300 hektare,” kata Bupati Siak, Alfredi, pada acara panen raya padi percontohan (demplot) Bank Indonesia di Muara Kelantan, Sungai Mandau, Siak, Senin (3/2/2020).

Selain itu, areal persawahan di Siak juga menyebar di Teluk Lanu seluas 900 hektare, di Sungai Mandau 600 hektare, dan Saba 1.500 hektare. “Ada juga di Sungai Apit dan Kandis,” tambahnya.

Seluruh pertanian sawah di Siak, kini sudah bisa melakukan musim tanam dua kali setahun. Hal itu diperoleh lewat upaya bantuan pemerintah dengan pengairan sistem pompanisasi. Dulunya, sawah di Siak berupa kawasan rawa dan tadah hujan, serta letaknya di atas permukaan air. “Namun berkat upaya pengairan yang baik dengan pompanisasi maka seluruh sawah di Siak bisa terairi dari Sungai Siak,” katanya.

Dengan demikian, kini Siak mampu memproduksi padi 6 ton per hektare.Terutama bagi persawahan yang sistem pertaniannya dan pengairan baik. Bahkan, lewat percontohan (demplot) Bank Indonesia di Muara Kelantan, Sungai Mandau, ada sawah yang mampu menghasilkan 9 ton padi per hektare. “Artinya sistem teknologi dan pengairan yang menggunakan cara organik ini lebih mampu menghasilkan panen berlipat, padahal biasanya di Muara Kelantan ini cuma mampu 2-4 ton per hektare,” tegasnya.

Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah, Teguh Setiadi mengatakan, BI telah memberikan bantuan teknologi dan pendampingan pertanian organik padi bagi petani di Muara Kelantan, Sungai Mandau.

Dari bantuan tersebut, kini demplot atau percontohan padi seluas dua hektere sudah bisa di panen di lahan yang satu hektare. “Dari perkiraan dinas pertanian dan BPS tadi percontohan padi organik binaan BI mampu memproduksi padi 9 ton per hektare,” kata Teguh.

Dia mengatakan alasan BI membantu pendampingan bagi petani padi di Siak, karena salah satu tugas BI sebagai bank sentral yakni mengelola inflasi. Beras atau sumbernya padi adalah salah satu penyebab naik turunnya inflasi jika harganya bergejolak. Oleh karena itu BI mencoba membantu mempraktikkan pola pertanian organik, sehingga produksi meningkat dan harga stabil di pasar. “Setelah demplot ini, ke depannya kita akan coba di lahan-lahan padi lainnya,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...