PHRI Sebut Okupansi Hotel Turun 40 Persen

Editor: Koko Triarko

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, saat ditemui di Jakarta, Rabu (5/2/2020). –Foto: Amar Faizal

JAKARTA – Industri pariwisata merupakan sektor yang paling merasakan dampak langsung akibat wabah virus corona. Sejak awal kemunculan virus tersebut, kunjungan turis manca negara, terutama yang berasal dari Cina terus mengalami penurunan signifikan.

“Dampaknya sudah sangat terasa. Apalagi kita tahu, pasar kita cukup besar, ada sekitar 2 juta pengunjung (Cina) setiap tahunnya yang datang ke berbagai wilayah, khususnya Bali dan Manado sebagai destinasi wisatawan Cina terbesar,” ujar Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran di Jakarta, Rabu (5/2/2020)

“Yang ke dua, wabah virus corona juga mempengaruhi dinamika traveler, yang tentunya (secara psikologis) enggan mengambil risiko atas kemungkinan penularan virus corona,” sambung Yusran.

Akibat ini juga, income atau pendapatan para pelaku usaha sektor pariwisata, seperti hotel dan restoran merosot tajam. Rata-rata penurunan okupansi mencapai 30 sampai 40 persen.

“Itu kan terbayang dari operational coast mereka masing-masing, bisa-bisa gelombang PHK terjadi. Belum lagi industri ini punya kewajiban, katakanlah dengan perbankan yang harus dijalankan. Jadi, dampak corona terhadap industri ini besar dan serius,” tukasnya.

Atas situasi ini, sektor pariwisata membutuhkan perhatian khusus pemerintah. Yusran berharap, pemerintah dan para pelaku industri pariwisata dapat duduk bersama untuk merumuskan solusi terbaik dalam menghadapi ancaman krisis di industri tersebut.

“Mestinya pemerintah bertanya, apa yang kira-kira menjadi kendala di sektor ini. Selain juga mencari pasar dalam kondisi sekarang seperti apa. Ini penting. Sambil secara paralel kita juga memikirkan bagaimana mencari pasar yang baru lagi,” tandas Yusran.

Dalam waktu dekat, PHRI akan menggelar musyawarah nasional (Munas) yang menghadirkan seluruh pengurus PHRI dari 33 Provinsi di Indonesia. Rencananya, dampak corona akan menjadi bahasan khusus dalam forum tersebut.

Di tempat berbeda, Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka Pangestu mengutarakan hal senada. Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil langkah antisipasi dampak virus corona terhadap sektor pariwisata.

“Karena sektor itulah yang pasti akan slow down. Ini persis krisis apa pun pada sektor pariwisata sebelumnya, entah itu bom Bali, Bom Marriot dan sebagainya. Kita musti bikin semacam crisis center yang bisa mendorong domestic tourism, atau para pengusaha sektor ini diberi keringanan tertentu, sehingga mereka bisa menghadapi situasi slow down,” jelas Mari, Rabu (5/2/2020) di Jakarta.

“Kalau lihat pola (virus corona) seperti virus sars, berarti kemungkinan minimal pengatasannya masih enam bulan lagi,” sambungnya.

Sejatinya, sumbangsih persentase sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif kecil, yakni sekitar 4 persen. Namun bila digabungkan dengan sektor transportasi sebagai penunjangnya, diperkirakan bisa mencapai 8 persen.

Lihat juga...