Pedagang Kecil Mengais Rezeki di Kompleks RS TC Hillers Maumere

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sebagai sebuah rumah sakit rujukan di pulau Flores dan Lembata, RS TC Hillers Maumere yang melayani rawat jalan dan rawat inap pasien dari 8 kabupaten, selalu ramai dikunjungi pasien.

Keluarga pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit milik pemerintah kabupaten Sikka ini, tentunya juga selalu membutuhkan makanan dan minuman saat menjaga anggota keluarganya yang dirawat.

“Dulu, kami berjualan persis di samping ruangan Unit Gawat Darurat (UGD), tetapi sejak ada perbaikan kami diminta berjualan di bagian belakang samping UGD,” kata Trin Dei, penjual makanan dan minuman di RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/2/2020).

Trin mengaku bersama empat teman lainnya diberikan kesempatan oleh manajemen rumah sakit untuk berjualan di dalam kompleks rumah sakit tanpa dipungut biaya.

Trin Dei, pedagang makanan dan minuman di RS TC Hillers Maumere kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di lapaknya, Selasa (18/2/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Selain menjual nasi kuning dan nasi putih, para pedagang ini menjajakan makanan dan minuman seperti roti, telur ayam rebus, air mineral, kopi dan teh serta makanan dan minuman lainnya, kecuali rokok.

“Saya sudah berjualan selama 20 tahun dan kami semua menjual nasi putih atau nasi kuning dengan lauk ikan dan lauk seharga Rp5.000 per bungkus. Harganya tetap sama seperti dahulu dan kami tidak menaikkan harganya,” ujarnya.

Banyak orang meminta agar harga jual nasi dinaikkan, tetapi mereka sepakat untuk tidak menaikkan harga jual, karena para keluarga pasien rata-rata kalangan menengah ke bawah, yang memiliki pendapatan pas-pasan.

Kelimanya berjualan sejak pagi hari jam delapan hingga sore jam lima atau jam enam, bahkan hingga malam dan penghasilan yang diperoleh pun lumayan untuk membantu ekonomi keluarga, termasuk membiayai sekolah anak-anak mereka.

“Sehari saya bisa mendapat untung paling banyak Rp200 ribu, tetapi minimal bisa dapat untung Rp100 ribu. Suami saya nelayan dan hanya di rumah mengurus anak,” ungkapnya.

Trin mengaku suaminya biasa melaut sore atau malam hari, tetapi sejak perahu bantuan pemerintah kabupaten Sikka hancur akibat diterjang gelombang besar pada 2019, praktis sudah tidak melaut lagi.

Ibu rumah tangga yang tinggal di kelurahan Waioti, kota Maumere, ini mengaku senang bisa berjualan di kompleks rumah sakit tanpa dipungut biaya, dan bisa membantu keluarga pasien yang membutuhkan makanan dan minuman.

“Kami hanya ambil untung sedikit saja, yang penting bisa memperoleh penghasilan. Yang terpenting keluarga pasien bisa terbantu, karena kasihan mereka juga sedang mengalami kesusahan, karena anggota keluarganya dirawat di rumah sakit,” tuturnya.

Selain nasi, tambah Trin, telur ayam rebus dijual Rp5.000 per dua butir, sementara kopi asli dijual Rp5.00 segelas, sementara kopi biasa dijual Rp3.000 per gelas, sama dengan teh manis.

Edoksia, pedagang lainnya asal kelurahan Beru, mengaku dengan berjualan di rumah sakit dirinya bisa membantu perekonomian keluarga, karena suaminya hanya seorang petani dengan pendapatan sangat minim.

Dia mengaku mulai berjualan sejak 5 Januari 2010 dan keuntungannya untuk membiayai sekolah enam orang anaknya, di mana 4 anaknya sudah tamat kuliah berkat uang dari berdagang.

“Tidak selamanya pendapatan tetap setiap hari, dan kalau tidak laku makanannya kita bawa pulang untuk dimakan anggota keluarga. Sehari bisa mendapatkan keuntungan minimal Rp100 ribu,” tuturnya.

Nur Sakinah dan Vero, pedagang lainnya pun mengaku senang bisa berjualan di rumah sakit dan memiliki pendapatan lumayan, sehingga bisa membiayai kebutuhan rumah tangga dan membiayai sekolah anak-anak mereka.

Nur dan Vero mengaku berlima tetap kompak dalam berjualan, dan tidak ada persaingan harga, karena harga semua barang jualan sama, sehingga pembeli bisa memilih membeli di pedagang mana saja.

“Harga yang kami jual sama semua, apalagi tempat berjualannya saling berdempetan satu sama lain. Kami tetap kompak dalam berdagang, sebab soal rezeki sudah diatur sama Tuhan,” pungkas Trin.

Lihat juga...