Mengenal Perbedaan Trauma Akut dan Trauma Kronis

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Ketua Komite Medik RS Yarsi Dr(DMB), Dr (Orth), dr. Norman Zainal, SpOT, M.Kes, FICS, CCD saat ditemui di Auditorium RS Yarsi Jakarta, Rabu (12/2/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Secara medis, trauma yang dialami oleh pasien bisa dibagi menjadi dua, yaitu trauma akut (acute trauma) dan trauma kronis (chronic trauma). Masing-masing memiliki cara terapi yang berbeda.

Ketua Komite Medik RS Yarsi, Dr (DMB), Dr(Orth), dr. Norman Zainal, SpOT, M.Kes, FICS, CCD, menyatakan yang membedakannya adalah waktu terjadinya trauma.

“Kalau kronis itu terjadinya berulang. Misalnya, kalau kita mencuci baju menggunakan tangan setiap hari, maka akan ada trauma pada tangan kita,” kata dr. Norman saat ditemui di RS Yarsi Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Atau jika pasien adalah atlit lari, maka trauma kronis dapat terjadi pada otot-otot yang digunakan untuk berlari.

“Sementara kalau trauma akut itu terjadinya secara langsung, sekaligus dalam suatu waktu. Misalnya kecelakaan kerja,” urainya.

Kalau pekerja pabrik yang berkaitan dengan mesin potong, maka kemungkinan trauma yang terjadi adalah tangan atau jari yang terpotong.

“Terkena, jari atau tangannya cedera ringan atau parah. Nah itulah yang disebut trauma akut,” ucapnya.

Bisa dinyatakan bahwa trauma akut merupakan suatu kejadian yang mempengaruhi kondisi pasien tersebut seumur hidup.

“Efeknya, bisa menjadi masalah bagi pasien tersebut sepanjang hidupnya,” kata dr. Norman lebih lanjut.

Untuk menyelesaikan masalah akibat trauma akut, ia menyebutkan, banyak bidang yang terlibat.

“Tergantung organ yang cedera. Kalau memang terkena kepala, artinya ada bedah saraf. Kalau organ dalam ada bedah digestif. Tapi, sebelum melihat cedera di dalam, biasanya yang dilakukan adalah memperbaiki cedera luarnya,” ujarnya.

Dalam bidang tenaga kerja, biasanya kasus yang biasa dialami adalah industri yang masih melibatkan manusia dalam pengoperasiannya.

“Umumnya adalah kasus terpotong, tertusuk dan tertimpa. Misalnya, terpotong mesin pemotong di industri pemotongan daging,” ucapnya.

Kalau pada kasus trauma kronis, biasanya dokter akan melihat berdasarkan tingkat keluhan.

“Tapi kalau trauma akut, kita harus bekerja dan mengambil langkah secara cepat. Golden period untuk trauma akut itu empat jam. Artinya, peluang untuk mendapatkan kesembuhan maksimal, itu bisa didapat jika diambil tindakan maksimal empat jam dari waktu kejadian. Bukan dari sampai ke rumah sakit ya,” kata dr. Norman menekankan.

Karena, setelah empat jam, prognosa-nya akan berubah.

“Bisa karena kuman atau karena semakin banyak pendarahan. Jadi semakin cepat diambil tindakan, maka akan semakin baik hasilnya,” pungkasnya.

Lihat juga...