DBD di Sikka Meningkat, Pasien Terpaksa Tidur di Lorong UGD
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
MAUMERE — Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat tiga rumah sakit, yakni RS TC Hillers Maumere milik pemerintah kabupaten Sikka maupun rumah sakit swasta RS Sta. Elisabeth Lela dan RS St. Gabriel Kewapante dibanjiri pasien.

Bahkan rumah sakit kewalahan melayani pasien karena keterbatasan daya tampung ruang perawatan dan membuat para pasien yang dirujuk dari Puskesmas di 21 kecamatan yang ada di kabupaten Sikka terpaksa tidur di lorong unit gawat darurat (UGD) rumah sakit.
“Semua ruangan perawatan yang ada di rumah sakit ini sudah penuh karena banyak sekali pasien demam berdarah yang dirujuk kesini,” kata dr. Clara Y. Francis, direktur RS TC Hillers Maumere kabupaten Sikka provinsi NTT, Jumat (7/2/2020).
Dokter Clara menyampaikan, di Unit Gawat Darurat (UGD) para pasien terpaksa ditempatkan di lorong-lorong dengan menggunakan tempat tidur karena kapasitas ruang perawatan sudah penuh.
Manajemen rumah sakit kata dia, selalu memantau apabila ada pasien yang keluar, maka pasien baru yang membutuhkan perawatan akan segara dimasukan ke ruang rawat inap yang ada.
“Kita berharap para pasien demam berdarah yang bisa ditangani di Puskesmas sebaiknya ditangani dahulu karena ruangan rawat inap kami penuh. Selain itu tenaga medis juga tidak mencukupi kalau semua pasien harus dirawat disini,” ungkapnya.
Clara berharap agar semua rumah sakit dan Puskesmas di kabupaten Sikka harus berkoordinasi terkait penanganan pasien demam berdarah agar jangan sampai pasien menumpuk di rumah sakit saja.
Sementara itu dr. Asep Purnama, pegiat malaria yang juga dokter spesialis bedah di RS TC Hillers Maumere menyebutkan, meningkatnya pasien DBD tentu berdampak terhadap peningkatan pelayanan di rumah sakit.
Asep mengaku miris melihat banyaknya pasien demam berdarah yang berobat ke RS TC Hillers Maumere dan terpaksa ditempatkan di lorong Unit Gawat Darurat (UGD), di depan pintu masuk.
“Karyawan dinas Kesehatan kan hanya sekitar 800 orang saja, sementara warga kabupaten Sikka 300 ribu lebih, sehingga harus melibatkan masyarakat dalam perang terhadap demam berdarah,” tegasnya.
Plt. Kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka Petrus Herlemus mengatakan, dengan meningkatnya pasien DBD tentu rumah sakit akan mengalami kekurangan tenaga medis sehingga pihaknya telah berkoordinasi dengan Akademi Perawat (Akper) Lela.
Petrus mengaku dirinya meminta agar Akper Lela mengirimkan mahasiswa tingkat akhirnya untuk membantu di rumah sakit. Sementara untuk menampung pasien DBD pihaknya menyiapkan tiga Puskesmas yakni Puskesmas Kota, Beru dan Wolomarang.
“Rumah sakit St. Gabriel Kewapante dan RS Lela juga pasiennya penuh sehingga dinas Kesehatan telah mengirimkan tempat tidur untuk kedua rumah sakit swasta ini,” ungkapnya.
Petrus juga memaparkan bahwa penyakit DBD telah menyebar di 19 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada di kabupaten Sikka dengan jumlah pasien 405 orang dan kecamatan Magepanda berada di peringkat pertama dari jumlah pasien.