Cegah DBD, Puskesmas Ketapang Maksimalkan Peran Jumantik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Munculnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) saat penghujan menjadi perhatian unit pelaksana teknis (UPT) Puskesmas rawat inap Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel).

Samsu Rizal, KUPT Puskesmas rawat inap Ketapang menyebut sejak awal tahun ini terdata sebanyak 6 warga dinyatakan positif dan 15 diantaranya suspect DBD.

Samsu Rizal, KUPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang dalam kegiatan memaksimalkan peran kader jumantik di Desa Legundi, Jumat (7/2/2020) – Foto: Henk Widi

Pengendalian, pencegahan penyakit yang ditimbulkan nyamuk Aedes aegypti menurutnya terus dilakukan. Bersama puluhan desa di wilayah Kecamatan Ketapang Samsu Rizal menyebut memaksimalkan peran dan tugas juru pemantau jentik (jumantik).

Jumantik menurutnya merupakan petugas kesehatan atau masyarakat yang secara sukarela memantau jentik nyamuk di lingkungan tempat tinggal.

Peranan jumantik diakui Samsu Rizal cukup penting, sebab wilayah Ketapang berada di dekat pantai. Potensi genangan air dari air laut, air sungai dan hujan berimbas nyamuk bisa berkembang.

Langkah 4 M diantaranya Menguras, Menutup, Mengubur dan Memantau dilakukan mengurangi berkembangnya jentik nyamuk. Selain jumantik setiap warga berperan aktif menanggulangi DBD.

“Pemberantasan sarang nyamuk secara rutin oleh jumantik juga harus melibatkan setiap keluarga karena nyamuk aedes aegypti hidup pada genangan air yang bersih seperti bak mandi, gentong bahkan kaleng dan tabung bambu,” terang Samsu Rizal saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (7/2/2020).

Sebagai wilayah dengan iklim tropis, Samsu Rizal menegaskan jumantik harus terus mengajak masyarakat peduli. Sebab penularan penyakit DBD bisa terjadi jika ada salah satu warga tergigit nyamuk Aedes aegypti.

Para kader jumantik menurutnya perlu mendapat dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda untuk berkomitmen membebaskan desa dari penyakit DBD.

Komitmen tersebut diakui Samsu Rizal telah dilakukan di sebanyak 3 desa dari sebanyak 17 desa yang ada di Lamsel. Sejumlah desa yang telah berkomitmen membentuk jumantik dan siap bebas DBD di 2020 meliputi Desa Pematang Pasir, Legundi dan Sri Pendowo.

Puluhan desa lain di Ketapang menurutnya telah memiliki kader jumantik yang telah dibentuk. Meski demikian penandatanganan komitmen dilakukan secara bergiliran.

“Keberadaan jumantik ditargetkan menyesuaikan jumlah dusun sehingga akan ada ratusan jumantik di satu kecamatan,” beber Samsu Rizal.

Pemaksimalan peran jumantik di setiap desa lanjut Samsu Rizal dituangkan dalam komitmen di setiap desa. Tiga komitmen yang disepakati di antaranya menyiapkan satu rumah satu jumantik, melaksanakan 4 M plus secara berkala, mengaktifkan kader jumantik melalui penyiapan sarana dalam pelaksanaan dan pengawasan jentik.

Sejumlah desa menurutnya bahkan ikut mendorong pemberian biaya operasional untuk kader jumantik.

Memasuki awal Februari Samsu Rizal menyebut dari sejumlah kasus DBD, pasien mendapat penanganan di Pusksmas rawat inap Ketapang. Sejumlah pasien yang harus mendapat penanganan lanjutan dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan lebih tinggi di RSUD Bob Bazaar Kalianda.

Pemeriksaan lanjutan pada lingkungan yang ditemukan warga terkena DBD dilakukan dalam sejumlah tahap.

“Kami kerahkan bidan desa, jumantik dan warga melakukan penyelidikan epidemologi dan saat ditemukan proses fogging juga dilakukan,” beber Samsu Rizal.

Sebanyak 4 kasus DBD di Desa Legundi menurutnya langsung ditangani. Berdasarkan penyelidikan epidemologi sebanyak 4 pasien terjangkit DBD saat ada warga yang ikut menunggu pasien di rumah sakit.

Setelah melalui pemeriksaan dan perawatan di Puskesmas 3 orang diperbolehkan pulang. Satu pasien bernama Lita Permata Sari masih dirawat karena trombositnya masih rendah.

Terkait peran jumantik, Mulkan, kepala desa Legundi menyebut mendukung upaya pencegahan DBD. Komitmen bersama sejumlah tokoh dan puskesmas membuat kader jumantik bisa bekerja dengan baik.

Mulkan, Kepala Desa Legundi Kecamatan Ketapang, Lamsel, saat ditemui terkait pembentukan kader jumantik, Jumat (7/2/2020) – Foto: Henk Widi

Ia juga telah mengimbau kepada sebanyak 9 kepala dusun di wilayahnya menunjuk jumantik. Selain itu desa dengan kepala keluarga (KK) 500 dan 1000 jiwa kesadaran masyarakat sangat penting mencegah DBD.

“Pelaksanaan kegiatan gotong royong, pola hidup bersih dan sehat terus dilakukan menghindari DBD,” cetus Mulkan.

Pemahaman masyarakat potensi munculnya penyakit DBD dari nyamuk akan meringankan tugas jumantik. Para petugas jumantik diakuinya akan dibekali dengan senter dan akan selalu mendata setiap rumah yang dinyatakan bebas jentik.

Pemeriksaan oleh petugas jumantik menghasilkan pemetaan angka bebas jentik (ABJ). Pemetaan AJB bertujuan melihat partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Amran, salah satu warga mengaku komitmen yang dibentuk akan meningkatkan kesadaran masyarakat. Warga Dusun Suka Bandar itu menyebut penanganan DBD dengan fogging sekaligus menyadarkan warga untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Selain tugas jumantik upaya menjaga kebersihan lingkungan bisa dilakukan dengan terus memantau lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Lihat juga...