Budidaya Labu Madu Jadi Pilihan Petani Bakauheni
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Masa tanam pertama (MT1) pada masa penghujan atau rendengan dimanfaatkan petani Bakauheni untuk budidaya labu madu karena dinilai lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan tanaman jagung.
Robiin, petani di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, tanaman jagung pada MT1 rentan hama ulat grayak dan busuk batang.
Penanaman labu madu pada lahan perbukitan menurut Robiin membuat ia tidak kuatir genangan dan banjir. Salah satu kendala budidaya labu madu kala musim rendengan dimulai dari masa pembungaan. Hujan yang turun sepekan dua kali kerap berimbas kerontokan pada bunga. Selain itu saat musim penghujan kala buah mulai muncul hama lalat penggerek buah memicu pembusukan.
“Antisipasi hama yang berpotensi merusak produktivitas buah labu madu saya mempergunakan insektisida kontak, sehingga ulat dan hama lain tidak merusak buah yang masih muda,” terang Robiin saat ditemui Cendana News di kebunnya, Senin (17/2/2020).
Meski budidaya dilakukan dekat sungai Gubuk Seng Robiin menyebut lahan yang lebih tinggi terhindar dari banjir saat penghujan. Sistem penanaman terjadwal dilakukan untuk memaksimalkan pendapatan. Sebab labu madu merupakan komoditas pertanian yang cukup potensial secara ekonomi. Perkilogram labu madu dijual seharga Rp10.000 perkilogram dengan rata rata perbuah seberat dua kilogram.
“Penanaman terjadwal saya lakukan saat tanaman tua usia dua bulan saya telah menyiapkan lahan dan benih baru agar panen bisa berkelanjutan,” beber Robiin.
Penanaman labu madu saat penghujan harus ditangani dengan maksimal. Sebab selain hama, curah hujan tinggi berpotensi mengakibatkan busuk batang. Daun yang berlebih saat penghujan sekaligus berpotensi mengakibatkan tanaman roboh.
Menggunakan modal sekitar Rp10juta sekali tanam mulai pengolahan hingga pasca panen, Robiin mengaku masih bisa mendapat keuntungan. Dengan harga jual Rp10.000 di petani ia masih bisa mendapatkan hasil sekitar Rp35juta dengan hasil panen mencapai 3,5 ton.
Plt Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Lamsel, Bibit Purwanto menyebut alternatif budidaya labu madu sangat tepat. Sebab sebagian petani yang menanam jagung pada lahan kering pada MT1 rentan hama ulat grayak dan busuk batang.
Meski melakukan penanaman pada lahan terbatas ia menyebut potensi ekonomi budidaya labu madu cukup menjanjikan. Petani bisa memaksimalkan hasil dengan tanaman hortikultura yang tepat.
“Sebagian petani yang memanfaatkan lahan untuk budidaya cabai merah juga mendapat untung pada MT1 karena harga tinggi,” paparnya.
Ia juga berharap petani yang menanam labu madu bisa menularkan ilmunya ke petani lain. Meski budidaya labu madu membutuhkan modal besar namun bisa ditanam dalam skala kecil. Pemanfaatan lahan dengan tanaman tepat diakuinya bisa meminimalisir kerugian. Sebab saat penghujan sejumlah komoditas pertanian seperti sayuran, jagung memiliki potensi kerusakan.