Anak Muda Sikka Diminta Terjun di Bisnis Kuliner
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Banyak produk pertanian maupun perkebunan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, hanya dijual secara gelondongan saja ke luar daerah sehingga tidak memberikan dampak besar bagi peningkatan kesejahteraan para petani serta tidak membuka lapangan kerja baru.
Bisnis kuliner yang terus bertumbuh di Kabupaten Sikka mulai menjawab permasalahan ini dengan mengolah bahan-bahan lokal baik ikan, sayuran serta buah-buahan menjadi aneka masakan dan minuman yang lezat dan laris terjual.
“Peluang bisnis kuliner di Kabupaten Sikka masih terbuka luas karena banyak makanan lokal yang bisa diolah dan dikreasikan dan disukai pembeli,” kata Simon Subandi Keytimu, salah satu wirausahawan pemilik rumah makan Pondok Raos Centrum, Maumere, Sabtu (8/2/2020).

Di kota Maumere, kata Simon, semua bahan kuliner tersedia baik ikan, sayuran serta buah-buahan segar serta aneka bumbu mudah ditemui di berbagai pasar tradisional.
Namun dirinya menyayangkan masih belum banyak anak muda yang memanfaatkan peluang berbisnis kuliner meskipun saat ini sudah banyak yang memulai menjual aneka kuliner dalam jumlah terbatas melalui media sosial.
“Tidak sulit mendapatkan bahan untuk dijadikan makanan dan minuman dengan citra rasa yang enak dan digemari pembeli.Bisnis makanan dan minuman lokal sangat menjanjikan dan banyak pembeli dari luar Sikka juga menggemarinya,” ungkapnya.
Simon menyebutkan, selama 25 tahun merantau di Pulau Jawa dirinya salut akan semangat masyarakat di Pulau Jawa yang mengembangkan potensi di dalam diri mereka dan meraih kesuksesan dengan bekerja keras.
Dirinya mendirikan rumah makan agar bisa memberikan edukasi kepada anak-anak muda di Sikka bahwa tidak perlu merantau untuk mencari uang atau menganggur setelah kuliah sambil menunggu lowongan kerja menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran.
“Setiap tahunnya ribuan sarjana dihasilkan dari beberapa kampus-kampus di Sikka. Sebenarnya kita tidak sulit kalau kita melihat peluang yang ada sebab sudah banyak anak muda yang menjual produk melalui online tetapi mungkin juga mereka memahami betul bagaimana caranya menjual yang baik,” ungkapnya.
Simon mengaku 25 tahun jadi marketing dan memahami perilaku konsumen karena sebenarnya bukan soal harga produknya tetapi soal servis dan pelayanan yang diberikan.
Dalam berbisnis kuliner, bagi dia rasa nomor dua sebab barang sebagus apa pun kalau kita tidak bisa menjual secara baik maka tidak akan laku dan disukai oleh pembeli.
“Ikan bakar dan kuah asam hampir semua warung makan menyediakannya tetapi bagaimana agar makanan kita laku terjual dan disukai pembeli ,Coba lihat saja di toko, rumah makan dan tempat lainnya di kota Maumere rata-rata pelayanannya kurang ramah padahal pelayanan itu sangat penting,” tegasnya.
Simon bepesan, jangan pernah takut untuk berusaha sebab sekalipun gagal berulang kali itu adalah awal dari kebangkitan karena kita harus gagal dahulu agar tahu bagaimana mencapai kesuksesan.
“Anak-anak muda harus dididik mental wirausahanya agar memiliki ketangguhan dalam berusaha. Dengan gagal kita akan mengetahui bagaimana caranya untuk bangkit,” pesannya.
Sementara itu, Severinus Jonson salah seorang anak muda yang berbisnis kuliner pun sepakat bahwa kuliner lokal pun kian diminati bukan saja oleh masyarakat Sikka tetapi masyarakat yang berasal dari luar Sikka.
Menurut Jones sapaannya, setiap menjual makanan lokal pasti selalu habis terjual dan rata-rata pembeli menyukainya sehingga bisa memebrikan pemasukan yang lumayan besar.
“Saya berharap anak-anak muda di Sikka bisa menekuni bisnis kuliner karena peluang bisnisnya bagus. Dalam sebulan bisa memperoleh pendapatan hingga belasan juta rupiah bila sedang ramai pembeli,” bebernya.