Pakades, Ajang Unjuk Gigi Mahasiswa DKV di Malang
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Sebanyak 120 karya mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang, dipamerkan dalam gelaran Pekan Desain (Pakades).
Karya yang ditampilkan tidak sekedar menarik atau indah dilihat secara fisik, tetapi juga dituntut bisa memecahkan permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Kepala program studi DKV Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang, Handry Rochmad Dwi Happy, menjelaskan tujuan diselenggarakannya pameran Pakades adalah untuk melatih mahasiswa agar berani berkarya, berani menampilkan diri kepada masyarakat bahwa karya mereka tidak kalah dengan kampus lainnya.
“Pameran ini merupakan salah satu ajang pembuktian diri bahwa mereka berani bersaing dengan kampus lainnya yang memiliki prodi yang sama. Setidaknya, di Malang sendiri ada enam kampus yang memiliki prodi DKV,” jelasnya di tengah-tengah pembukaan pameran Pakades di Dewan Kesenian Malang (DKM), Senin sore (27/1/2020).
Menurutnya selain melatih mahasiswanya agar berani menampilkan karya, juga melatih mereka untuk berani berhadapan dengan klien dalam hal ini secara langsung. Karena mau tidak mau setelah mereka lulus dari kampus, mereka nanti akan dihadapkan dengan dunia nyata.
“Setelah mereka lulus, mereka akan banyak menemui permasalahan yang harus bisa diselesaikan. Meskipun karya mereka bagus, tapi jika belum bisa menyelesaikan masalah, maka kemungkinan besar karya mereka tidak akan terpilih oleh klien,” terangnya.
Bagi prodi DKV sendiri pameran ini sebagai salah satu tolok ukur seberapa berhasil para dosen memberikan ilmunya ke mahasiswa. Karena cara terbaik untuk menilai keberhasilan adalah dengan melihat mahasiswa mereka berhasil memecahkan masalah di luar kampus.
Lebih lanjut Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang, Risa Santoso, menilai karya yang dipamerkan mahasiswanya sangat kreatif dan bisa menjawab permasalahan yang ada di tengah masyarakat.
“Pameran ini melatih mahasiswa bagaimana caranya untuk membuat produk atau sebuah karya yang profesional. Sekaligus sebagai ajang untuk menunjukkan bahwa mahasiswa Asia juga bisa berkarya dan layak untuk dikontribusikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Pelaksana, Armeliana Tri Rahmaningtyas, menjelaskan pada acara Pakades yang ketujuh ini mengambil tema Celepuk atau burung hantu, sebagai ikon utama dari acara mereka.
Ada pun filosofi yang diambil dari tema Celepuk antara lain yaitu fokus, perfeksionis, bijaksana dan tegas. Karakter ini menggambarkan karakter ideal yang dapat menjadi panutan setiap insan.
“Ada pun poinnya saat ini populasi hewan Celepuk makin banyak, hal ini sama seperti prodi DKV yang semakin banyak diminati. Celepuk juga lebih fokus pada malam hari, sehingga dapat direpresentasikan sebagai kebanyakan mahasiswa DKV yang lebih aktif dan kreatif pada malam hari,” jelasnya.
Kemudian Celepuk juga berguna untuk masyarakat karena dapat membasmi hama. Sama halnya dengan DKV, yang berguna untuk masyarakat dalam memecahkan masalah.