Budi Daya Udang Vaname di Sumbar Terus Berkembang

Editor: Koko Triarko

PADANG – Budi daya udang vaneme kini makin berkembang di kawasan pesisir pantai Provinsi Sumatra Barat, seperti di Kota Padang, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, dan Kabupaten Agam. Tercatat ada seluas 300 petak udang vaname di provinsi ini dengan produksi yang luar biasa.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat, Yosmeri, mengatakan, dari 300 tambak udang itu ada 300 ton lebih per 100 hari panen. Hasil produksi udang vaname di Sumatra Barat telah dijual ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang ekspor, tapi tidak melalui Sumatra Barat, namun langsung melalui Dumai, Provinsi Riau.

Bahkan, dari total 300 ton lebih produksi udang vaname itu, 150 ton merupakan produksi untuk diekspor, sisanya dipasarkan secara lokal dan nasional. Ke depan, diperkirakan jumlah produksi tambak udang terus meningkat.

Ia menyebutkan, dengan adanya kondisi yang demikian telah menunjukan, bahwa budi daya udang vaname mulai berkembang. Namun melihat dari total tambak yang ada, dapat dikatakan kondisi terkini tergolong masih tahap pengembangan. Karena akan ada kemungkinan, usaha tambak udang vaname ini akan terus tumbuh di berbagai tempat lainnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat, Yosmeri, ditemui di ruang kerjanya, Senin (27/1/2020)/ Foto: M. Noli Hendra

“Daerah-daerah yang kini menjadi tempat budi daya itu masih sebagian kecilnya, dan masih banyak lahan sebenarnya bisa diolah untuk dijadikan lokasi tambak undang,” katanya, Senin (27/1/2020).

Yosmeri menyatakan, dari 300 tambak udang itu lahan yang digunakan sebagian besar merupakan lahan yang tidak dikelola. Kini, dengan adanya potensi tambak udang vaname, banyak masyarakat memanfaatkan lahan tidur menjadi kawasan tambak udang.

Seperti terlihat di Kabupaten Padang Pariaman, ada beberapa tempat yang cukup luas yang kini berubah menjadi tempat tambak udang vaname.

“Budi daya udang ini tidak hanya memanfaatkan lahan yang selama ini tidak berfungsi, tapi juga dapat membuka lapangan pekerjaan lokal dan ekonomi lokal,” ujarnya.

Untuk itu, melihat besarnya pangsa pasar udang vaname ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatra Barat, mendorong pelaku usaha atau masyarakat untuk mengembangkan usaha budi daya udang vaname tersebut. Karena banyak dampak ekonomi yang baik, yakni dampak ekonomi dan juga memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Sementara, Dinas Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan, mengaku tengah fokus melakukan pengembangan budi daya udang vaname di kawasan Cerocok Anau, Kecamatan Koto XI Tarusan. Hingga kini, tercatat panen secara parsial mencapai 170 ton.

Kepala Bidang Pengelolaan dan Pembudidayaan Ikan pada Dinas Perikanan Pesisir Selatan, Firdaus, mengatakan, komoditas udang vaname belakangan ini makin diminati dan terus dikembangkan masyarakat. Hal ini juga terlihat, pertumbuhannya yang relatif cepat dengan waktu dua bulan, dinilai menjadi daya tarik bagi para investor.

Ia menyebutkan, hingga saat ini pihaknya tengah mendorong daerah Pesisir Selatan sebagai tambak udang. Investasi tersebut diharapkan menjadi peluang besar bagi masyarakat sebagai usaha yang menjanjikan untuk masa depan.

“Peluang pasar masih terbuka lebar hingga saat ini. Berapa pun jumlahnya, masih terserap. Selain itu akan menyerap tenaga kerja lokal,” katanya.
Firdaus menyebut, saat ini harga pasaran berkisar antara Rp60-70 ribu per kilogram. Harga itu, sesuai pasaran ekspor yang telah dilakukan sebelumnya. Untuk satu tambak udang ukuran 20×20 meter persegi diperlukan dana hingga Rp50 juta. Sementara, untuk Nagari Cerocok Anau, Kecamatan Koto XI Tarusan, ada seluas 12,5 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan.

Lihat juga...