Air Banjir Surut, Warga Semanan Kalideres Bersih-bersih
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Seorang warga Kalideres, Bohar bersyukur kediamannya sudah surut dari air banjir yang mengepung selama enam hari sejak malam tahun baru, 1 Januari 2020. Menurut Bohar, air mulai naik pukul 03.00 dini hari saat warga tengah tidur terlelap.
“Ini surutnya di hari ke enam pascabanjir dari 1 Januari pas malam tahun baru. Air naik jam 3 dini hari saat warga sedang tertidur. Tiba-tiba air sudah mengenangi rumah warga sekitar setengah meter,” kata Bohar kepada Cendana News di Jalan Pesakih, Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (9/1/2020) sore.

Menurut Bohar, sejak kemarin air mulai surut dan saat ini warga setempat serta jajaran Pemprov DKI, Polri, TNI bergotong royong untuk membersihkan sisa-sisa banjir. Dia menuturkan selama banjir, listrik juga padam dan baru Rabu listrik kembali menyala.
“Kemarin baru kering airnya, makanya kita baru bersih-bersih dibantu dengan jajaran Pemprov DKI, TNI, Polri serta Satpol PP untuk bersihkan sampah sisa banjir. Apalagi listrik selama banjir padam dan alhamdulillah sekarang sudah nyala,” ujarnya.
Dia menilai, banjir terparah dari tahun 2007 silam di wilayahnya yang terjadi. Dia mengaku, kawasan ini rendah. Namun pada banjir melanda tahun 2007, kawasan ini tingginya masih sepinggang dewasa. Berbeda dengan tahun ini, mencapai 2 meter.
“Banjir tahun ini paling parah, banjir yang paling dasyat di Jakarta Barat terutama di RT 01 RW 01 Kelurahan Semanan, Kalideres. Di tahun 2007 itu kalau dibandingkan sekarang belum seberapa. Dulu masih sepinggang, sekarang udah kurang lebih 2 meteran,” jelasnya.
Bohar menjelaskan banjir kemarin memakan korban jiwa yang terbawa arus air. Korban tersebut bernama Raihan Alam Dafi (18) warga Kampung Duri Rt 01/01 Kelurahan Semanan. Dia menceritakan saat banjir datang, korban ingin menyelamatkan diri.
“Di hari pertama pagi-pahi saat korban mau menyelamatkan diri, saking deresnya air dia kebawa arus sama temennya. Sedangkan temannya itu sempat megang pohon sementara dia tidak, arusnya cukup kencang,” tuturnya.
Dia mengatakan di hari pertama banjir belum ada bantuan dari Pemerintah setempat. Untuk menginformasikan korban kebawa arus susah lantaran listrik padam dan handphone sudah lowbat. Setelah beberapa jam, akhirnya ada bantuan dari Camat Kalideres untuk melakukan evakuasi warga dan korban jiwa itu.
“Bantuan dari pemerintah belom ada, mau hubungi juga susah karena handphone saya lowbat dan kondisi listrik sudah padam. Saya langsung ke rumah pak Camat kemudian kita lakukan evakuasi para warga dan korban jiwa itu. Alhamdulillah pak Camat langsung bergerak sama saya untuk mengevakuasi mayat ke rumah sakit terdekat,” tuturnya.

Dia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI segera sigap dalam bencana apapun. Menurutnya akibat banjir, banyak warga sekitar yang mengidap penyakit kulit. Dia meminta untuk tim medis Pemprov DKI diperbanyak ditempatkan di posko pengungsian. Dokter maupun perawatnya diperbanyak diterjunkan.
“Terutama untuk medisnya tolong diperbanyak lagi karena sebentar ada sebentar enggak ada medisnya. Jadi harus lebih giat lagi, aktif lagi buat tenaga medisnya. Terutama yang dikeluhkan di sini obat gatel-gatel dan lainnya,” tut.urnya.
Dia mengaku sampai saat ini masih siaga dengan pemberitaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca ekstrem nanti.
“Keadaannya saat ini ya alhamdulillah airnya sudah surut. Tetapi kita dengar dari pemberitaan BMKG apalagi negara luar sudah memberikan informasi soal cuaca ekstrem nanti sampai perayaan Imlek ini, kita masih ditakuti sama air (banjir susulan atau air rob), ya kita berdoa supaya jangan terjadi lagi,” ujarnya.
Dari pantauan Cendana News di lokasi warga tengah sibuk membersihkan rumahnya dari lumpur banjir yang mengepung selama enam hari lebih. Ada juga jajaran Suku Dinas Lingkungan Hidup, Polri, Satpol PP, petugas Sumber Daya Air, sibuk membersihkan kawasan tersebut.
Sementara Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Juaini Yusuf mengatakan genangan di Semanan baru surut sekitar sepekan sejak banjir pertama melanda. Karena daerahnya berbentuk mangkuk dan bekas rawa-rawa.
“Kan kalau Semanan, di situ daerahnya cekungan, itu kan beberapa kali. Kalau di jalan kan memang air langsung masuk ke saluran, kalau di Semanan itu kan daerahnya itu kayak mangkuk, itu kan bekas rawa-rawa di situ,” ujar Juaini terpisah.
Menurutnya kondisi wilayah yang berupa cekungan itu membuat air sulit untuk surut. Menurutnya, air di lokasi itu sudah berkali-kali disedot. Menunggu kondisi kali tidak tinggi. Bila waktu memungkinkan penyedotan bisa dilakukan.
“Kalau kali-nya penuh juga kayak awal-awal kan ya kami sedot kali, balik lagi, balik lagi, karena airnya penuh. Sekarang kalinya sudah surut, kemarin kami paksakan sedot, kirim pompa sebanyak-banyaknya ke situ supaya cepat,” ucap Juaini.
“Kemarin hampir 24 pompa mobile kami taruh di segala penjuru untuk tarik di situ,” tutupnya.