27 Tahun Honor Puji Setyarini Hanya Rp370 Ribu

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS – Jiwa pengabdian Puji Setyarini (49), guru Taman Kanak-Kanak (TK) Diponegoro 99 di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, patut diacungi jempol. Meski sudah 27 tahun mengajar dan honor yang diterima hanya Rp370.000 per bulan, ibu empat anak ini tetap bersemangat mengajar.

“Karena sudah panggilan hati dan anak-anak di sini juga butuh guru, karena di TK ini hanya ada dua guru dan satu kepala TK, kebetulan saya kepala TK-nya,” kata Puji Setyarini, yang juga ikut terjun mengajar anak-anak, Kamis (2/1/2020).

Puji mengatakan, ia mulai mengajar di TK Diponegoro 99 Cilongok sejak 1993. Pertama kali mengajar honornya Rp5.000, dan ia menerima dengan senang hati, karena menyadari ia hanya lulusan SMA dan tidak sampai mengenyam pendidikan tinggi.

Kecintaannya kepada anak-anak dan dunia pendidikan, membuatnya terus bertahan di sekolah tersebut.

Suasana belajar di TK Diponegoro 99, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2020). –Foto: Hermiana E. Effendi

Walaupun satu per satu guru yang satu angkatan dengannya mulai keluar dari sekolah, Puji memilih untuk tetap bertahan. Hingga, dua tahun terakhir gajinya naik menjadi Rp370.000 per bulan.

“Guru TK di sini masih baru, yang satu baru bekerja 6 tahun dan yang satunya 9 tahun. Angkatan saya yang bekerja sejak 1993 sudah tidak ada yang bertahan di sini,” tuturnya.

Harapan mendapat penghasilan lebih baik pernah dialami Puji. Saat itu, Pemkab Banyumas memberikan honor tambahan untuk para guru honorer. Puji sempat menikmati honor tambahan dari Pemkab Banyumas sebesar Rp300.000 per bulan.

Namun, hal tersebut tidak lama. Setelah itu, karena memakan anggaran yang cukup besar, Pemkab Banyumas akhirnya melakukan evaluasi dan persyaratan guru honorer untuk mendapatkan honor tambahan dari pemkab diperketat, yaitu hanya guru honorer yang sudah menempuh pendidikan S1 atau sudah sarjana.

Aturan tersebut membuat Puji tersingkir, karena ia hanya memiliki ijazah SMA. Untuk bisa kuliah, Puji mengaku sangat berat, selain karena faktor biaya, juga karena faktor kesehatan.

Puji divonis dokter menderita gagal ginjal dan ia harus rutin menjalani cuci darah dua kali dalam satu minggu.

“Sudah dua tahun terakhir ini saya tidak lagi mendapatkan honor tambahan dari Pemkab Banyumas, karena saya tidak memiliki ijazah S1,” katanya.

Terkait penyakit yang dideritanya ini, Puji hanya bisa pasrah. Ia masih bersyukur, karena memiliki BPJS mandiri, sehingga masih bisa berobat dengan gratis di Rumah Sakit Margono Sukardjo Purwokerto.

Suami Puji, Bunyamin, sehari-hari berjualan jajanan yang dititipkan ke warung-warung. Penghasilanya juga tidak menentu. Sementara dua anaknya masih bersekolah sehingga butuh biaya.

“Anak saya masih dua yang bersekolah, salah satunya di pondok pesantren dan setiap bulan butuh biaya minimal Rp1 juta. Kalau dipikir-pikir, gaji saya sebagai guru TK dan penghasilan suami saya, jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi, Allah SWT selalu punya jalan yang tak terduga untuk mencukupkan kami sekeluarga,” kata Puji, penuh rasa syukur.

Di tengah keterbatasan fisik karena sakit ginjal dan gaji yang tak seberapa, Puji mengaku tetap akan terus mengajar, sepanjang masih diberi kesehatan.

Nasib lebih baik dialami oleh Durrotun Nasikhan (50), yang mengajar di TK Diponegoro 37, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Sekolah yang letaknya masih satu desa dengan TK tempat Puji mengajar ini, bisa membayar honor gurunya Rp500.000 per bulan.

“Saya sudah lama mengajar di sini, kurang lebih 28 tahun, honornya sekarang Rp500.000,” kata Durrotun, yang juga mengaku sudah tidak lagi mendapat bantuan honor dari Pemkab Banyumas, karena tidak memiliki ijazah S1.

Lihat juga...