UB Gelar Konferensi Bahas Studi Multidisiplin

Editor: Koko Triarko

MALANG – Fenomena perkembangan ilmiah bersama yang dibarengi berbagai masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, telah melahirkan studi multidisiplin, yang termasuk dalam kategori ilmu paling cocok untuk menangani kompleksitas permasalahan global saat ini. Sayangnya, keberadaan studi dalam berbagai karakteristik ilmiah masih banyak diremehkan.

Ketua FORWADEK II UB, Prof. Sukir Maryanto, S. Si.,M.Si.,Ph.D., mengatakan, sebenarnya studi multidisiplin mampu menjangkau hampir semua mata pelajaran pengetahuan dan teknologi. Pendekatan multidisiplin secara khusus juga dapat diterapkan sebagai solusi dalam menghadapi tantangan.

Ketua FORWADEK II UB, Prof. Sukir Maryanto, S. Si.,M.Si.,Ph.D. (kanan)  dan Wakil Rektor IV, Prof. Dr. M. Sasmito Djati (tengah) menjelaskan penyelenggaraan BICMST di gedung Widyaloka, Kamis (2/1/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

“Studi multidisiplin bisa digunakan sebagai solusi untuk menghadapi berbagai permasalahan, terutama yang terkait dengan perubahan iklim, pekerjaan, ekonomi kreatif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, media sosial, dan negosiasi antar lembaga,” jelas Sukir Maryanto, saat ditemui di sela pembukaan‘Brawijaya International Conference on Multydisciplinary Sciences and Technology (BICMST)’, di gedung Widyaloka, Kamis (2/1/2020).

BICMST diadakan oleh Forum Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan (FORWADEK II) Universitas Brawijaya (UB).

Sukir Maryanto mengatakan, seiring fenomena yang terjadi secara global tersebut, sebagai perguruan tinggi, UB ingin menjadi katalisator untuk kehidupan yang lebih baik, dengan cara memelopori inovasi pendidikan melalui kolaborasi interdisipliner dan saling melengkapi satu sama lain dalam mengembangkan ilmu multidisiplin.

“Kegiatan BICMST sebagai upaya meningkatkan suasana ilmiah serta mendukung pemeringkatan UB, sekaligus untuk meramaikan dies natalis UB,” sebutnya.

BICMST diikuti sebanyak 350 peserta dari dalam maupun luar negeri.

Lebih lanjut Wakil Rektor IV UB, Prof. Dr. M. Sasmito Djati, mengaku sangat mendukung apa yang dilakukan forum WD II dalam upaya mengembangkan multidisiplin.

“Dunia ilmu sejak dulu tidak ada batasnya. Pada hari ini, ilmu sudah melampaui batas-batas yang sudah kita bayangkan hari ini. Fakultas-fakultas yang ada sekarang bisa saja suatu saat nanti akan berubah, sehingga kita harus siap,” ujarnya.

Belum lagi, sambungnya, ke depan kesempatan dan jenis pekerjaan banyak yang berubah, sehingga suatu saat bisa saja kita yang akan menjadi pengangguran, kalau tidak bisa merencanakan masa depan.

Sementara itu, pembicara dari dalam maupun luar negeri turut memaparkan berbagai hasil penelitian yang telah mereka lakukan, di antaranya, Ms. Rebecca Britain (AS), Dr. Akira Kikuchi (Jepang), Dr. Mark Duncan (NZ), Prof. Dr. Gugus Irianto (WR2 UB), Prof. Dr. M. Sasmito Djati (WR4 UB), Prof. Dr. Imam Santoso (Dekan FTP), Prof. Dr. Bambang Supriyono (Dekan FIA), Prof.Dr. Loeki Enggar F itri (FK) dan Dr. Endra Gunawan (ITB).

Lihat juga...