Perubahan Lingkungan di Lamsel Berdampak pada Sektor Peternakan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kemarau yang masih melanda di Lampung Selatan (Lamsel) berimbas pada sektor perternakan. Pemilik ternak tradisional dengan sistem penggembalaan (angon) mulai sulit mencari lahan untuk merumput.

Hari, salah satu pemilik ternak di Desa Fajar Baru, Kecamatan Jati Agung menyebutkan, perubahan lingkungan membuat usaha peternakan terganggu. Faktor musim kemarau membuat ternak sapi miliknya harus merumput pada lahan kering.

Alih fungsi lahan menurutnya menjadi faktor berkurangnya lahan penggembalaan. Pemilik ternak sapi, kambing di wilayah itu terpaksa mencari sumber pakan alternatif jenis jenjet jagung dan ampas tahu. Luasan lahan penggembalaan yang berkurang di wilayah tersebut juga imbas pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

“Sejumlah faktor alam akibat kemarau, pembangunan memakai lahan pertanian untuk perumahan dan jalan tol sangat berdampak pada peternak. Mereka harus kreatif mencari sumber pakan untuk ternak,” ungkap Hari saat ditemui Cendana News, Rabu (4/12/2019).

Hari menyebut selama ini peternak sebagian merupakan pemilik lahan pertanian sawah. Namun meningkatnya kebutuhan akan perumahan membuat sebagian petani merelakan tanah untuk dibeli oleh para pengembang (developer).

Warsiem, pemilik sebanyak 4 ekor sapi jenis Peranakan Ongole (PO) juga mengaku mulai sulit menggembalakan sapi. Sebagian lahan sawah yang terkepung bangunan dengan kebutuhan sumur bor membuat sumber air semakin berkurang.

“Lahan sawah yang belum digarap dijadikan lahan penggembalaan, namun ternak sapi dan kambing mulai terbiasa memakan rumput kering,” beber Warsiem.

Ia bersama suami terpaksa menerapkan sistem kombinasi dalam beternak. Sistem gembala dan pemberian pakan di kandang membuat ia tetap bisa beternak.

Penggunaan pakan dengan cara membeli selama kemarau juga diterapkan peternak sapi lainnya, Lastri. Berkurangnya lahan gembala, sumber pakan hijauan imbas perubahan lingkungan membuat ia memakai jenjet jagung dengan harga Rp1000 per kilogram.

“Saat penghujan dengan lahan pertanian memiliki pakan alami rumput sapi dilepasliarkan tapi kini susah,” beber Lastri.

Lastri, salah satu peternak di Desa Sri Pendowo Kecamatan Ketapang Lampung Selatan memakai jenjet jagung sebagai pakan akibat berkurangnya pakan hijauan, Rabu (4/12/2019). Foto: Henk Widi

Warga Desa Sri Pendowo Kecamatan Ketapang itu juga menyebut berkurangnya lahan sawah akibat jalan tol berdampak bagi peternak. Sejumlah peternak menurutnya memiliki area penggembalaan yang lebih sempit.

“Sebagian tidak bisa menyeberang ke wilayah penggembalaan yang terpisahkan oleh jalan tol. Sistem mengandangkan ternak menjadi solusi perubahan lingkungan,” tambahnya.

Peternak lain bernama Sumini di Desa Kuripan menyebut masih beruntung. Sebab aliran sungai Way Kuripan masih bisa menumbuhkan rumput liar sumber pakan hijauan. Sungai yang kini berada di bawah jalan tol tersebut masih digunakan sebagian warga untuk bertani dan menanam rumput pakan ternak

“Saat panen pakan bisa diperoleh dari limbah jerami sebagian memanfaatkan rumput gajahan yang ditanam,” beber Sumini.

Sumini menyebut kemarau yang belum berakhir ikut mengurangi pasokan pakan. Sejumlah kebun dan ladang yang ada di wilayah tersebut umumnya dibersihkan dengan cara dibakar. Imbasnya peternak yang kerap mencari pakan mulai kesulitan.

Lihat juga...