Pengembangan Radioisotop Beri Manfaat untuk Dunia Kesehatan
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Inovasi radioisotop memiliki banyak manfaat. Salah satunya, yang dikembangkan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada bidang kesehatan, yaitu radiofarmaka, yang diharapkan bisa membantu proses diagnosa dan perawatan pasien secara lebih cepat dan akurat.
Radiofarmaka adalah produk farmasi yang mengandung radioisotop dalam bentuk injeksi atau diminum.
Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), Dr. Rohadi Awaludin, menyampaikan ada dua pengembangan pemanfaatan teknologi nuklir dalam bidang kesehatan.
“Yang pertama itu untuk kepentingan diagnosa dan yang kedua adalah untuk kepentingan terapi,” kata Rohadi saat ditemui di Gedung PTRR Batan Serpong, Senin (11/11/2019).
Rohadi menyebutkan bahwa keuntungan penggunaan teknologi nuklir dalam diagnosa adalah memberikan hasil diagnosa yang tidak bisa diberikan dengan sistem pencitraan medis yang biasa dilakukan.
“Selama ini, medical imaging yang dikenal masyarakat itu kan X-ray atau Rontgen, USG, CT Scan dan MRI. Itu semua berbasis anatomi tubuh. Sehingga, diagnosisnya akan berdasarkan pada perubahan anatomi tubuh. Kalau dengan radiofarmaka, maka medical imaging-nya akan berbasis pada metabolisme dan fisiologi tubuh,” urai Rohadi.
Ia menambahkan kedua pencitraan medis ini akan saling melengkapi. Karena ada beberapa kasus gangguan atau penyakit yang tidak menunjukkan perubahan bentuk anatomi.
“Contohnya Tc-99m-MDP atau Technium 99 Methyl Diphosponate yang digunakan untuk mendeteksi sebaran kanker di tulang. Yang kalau menggunakan imaging yang berbasis anatomi tidak akan terdeteksi. Karena tidak ada perubahan pada tulangnya,” paparnya.
Dengan menggunakan radiofarmaka ini, maka dokter akan bisa dengan tepat melakukan diagnosis terkait lokasi sebaran kanker di tulang.
“Atau juga ada MIBI Tc-99m Kit atau methoxyisobutylisonitrile yang digunakan untuk mendeteksi fungsi jantung dan perfusi miocard. Dengan MIBI ini, akan bisa dilihat mana yang otot jantung aliran darahnya lancar mana yang tidak, walaupun tidak ada perubahan anatomi organ,” ucap Rohadi.
Rohadi menyebutkan pada negara-negara maju, mendapatkan pencitraan dari kedokteran nuklir merupakan salah satu prosedur yang sudah biasa dilakukan dalam proses diagnosa pasien.
“Jadi medical imaging yang berbasis anatomi dan yang berbasis fisiologis metabolisme akan memberikan hasil yang lebih lengkap. Sehingga memungkinkan para dokter untuk lebih tepat dan akurat dalam memutuskan langkah pengobatan. Dan pasien juga diuntungkan dengan mendapatkan pengobatan dan perawat yang lebih tepat dalam waktu yang cepat,” katanya.
Untuk kepentingan terapi, Rohadi menyebutkan, ada produk yang sudah mendapatkan izin edar dan ada juga yang masih dalam proses penelitian.
“Untuk terapi, salah satunya adalah Samarium EDTMP atau Ethylene Diamine Tetramethylene Phosponate. Ini adalah radiofarmaka untuk membantu terapi paliatif kanker dengan meredakan rasa sakit dalam rentang waktu 30-40 hari,” ucap Rohadi seraya menunjukkan beberapa produk hasil inovasi PTRR Batan.
Selain itu, ada juga Lutetium 177 dan Iodium 131 yang masih dalam proses penelitian.
“Lutetium 177 atau Lu-177 ini untuk kanker prostat dan carrier-nya adalah PSMA. Kalau Iodium 131 atau I-131 untuk paliatif kanker tiroid,” tuturnya.
Rohadi menjelaskan bahwa Batan hanya melakukan penelitian dan pengembangan produk saja. Tapi untuk memproduksi dalam skala industri, Batan bekerja sama dengan PT Kimia Farma.
“Dalam memproduksi, kita mengambil sertifikasi pada lembaga terkait. Seperti BPOM, Bapeten dan KAN. Dan ini sudah kita dapat sertifikat semua. Jadi, saya yakinkan kepada masyarakat bahwa produk radiofarmaka ini aman karena semuanya sudah memenuhi kaidah safety, efficacy dan quality,” pungkasnya.
Tercatat, Batan sudah mengeluarkan lima produk berizin edar, satu produk sedang menunggu proses perizinan dan tiga produk dalam proses penelitian laboratorium.