Hujan Turun, Petani di Sikka Mulai Siap Berkebun
Editor: Mahadeva
MAUMERE – Hujan yang sudah mengguyur Kabupaten Sikka, utamanya di wilayah timur daerah tersebut membuat petani mulai bersiap mengolah lahan dan kebun.
Di Kabupaten Sikka sisi timur tercatat hujan sudah turun dua kali, sejak awal November. “Petani mulai siapkan lahan kebun, karena sudah mulai turun hujan. Banyak petani yang masih menggunakan cara tebas bakar untuk menyiapkan lahan,” kata Alfridus Keso, salah seorang petani di Sikka, Senin (4/11/2019).
Alfridus menyebut, petani lahan kering biasanya hanya menanam sekali saja setiap tahunnya. Mereka menanam saat musim hujan tiba. Untuk wilayah pegunungan, tanaman komoditi perdagangan seperti kakao dan kemiri masih menjadi andalan. Menjadi penambah hasil pertanian lain seperti jagung dan padi ladang. “Untuk petani di pesisir pantai dan daerah sulit air di dataran rendah biasanya hanya menanam tanaman mete di lahan kebunnya. Saat musim hujan petani lebih memilih menanam jagung dan kacang hijau saja,” ungkapnya.

Al Fatah, petani Desa Koja Doi, yang bermukim di Pulau Besar kecamatan Alok Timur kabupaten Sikka menyebut, rata-rata petani di pulau Besar juga mengandalkan tanaman perkebunan seperti jambu mete untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kalau di pulau Besar tanaman kelapa sulit sebab hasilnya tidak maksimal juga. Apalagi banyak kambing yang dilepas liar oleh pemiliknya sehingga sering makan tanaman kelapa yang ditanam,” ujarnya.
Selain menanam jagung, petani di Pulau Besar Desa Koja Doi juga menanam jagung dan kacang hijau. Sekali tanam, dengan luas lahan satu hektare, bisa menghasilkan sekira 300 kilogram saat panen. Sementara jagung, hasilnya tergantung curah hujan. “Biasanya masyarakat menanam jagung untuk dikonsumsi sendiri. Sementara untuk kacang hijau biasanya dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” jelasnya.
Di 2019 ini Al Fatah menyebut, hasil panen jagung dan mete juga menurun drastic, akibat panas yang berkepanjangan. Panen jambu mete paling banyak 200 kilogram untuk satu musim kalau hujan cukup. Sementara harga jualnya tidak stabil, berkisar antara Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per-kilogram. “Harganya juga naik turun sehingga pendapatan kita juga tidak menentu. Kadang juga saya memancing ikan untuk dimakan sendiri dan terkadang buat dijual juga tetapi hasilnya tidak seberapa,” pungkasnya.