Naskah Kerja Sama Ditandatangani, Pembangunan ITF Sunter Dikebut
Editor: Mahadeva
JAKARTA – Pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah di dalam kota atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter oleh Pemprov DKI Jakarta dikebut. Fasilitas tersebut ditargetkan beroperasi pada 2022 mendatang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih, mengatakan, ITF Sunter menjadi kegiatan strategis daerah yang telah ditetapkan. Fasilitas itu disiapkan sebagai solusi pengolahan sampah di dalam kota. “Berteknologi ramah lingkungan dan bertujuan untuk mengurangi beban TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang,” kata Andono, Rabu (16/10/2019).
ITF Sunter merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) terbesar di Indonesia. Fasilitas tersebut dilengkapi teknologi yang handal dan telah terbukti di negara-negara maju. “ITF Sunter adalah wajah baru pengelolaan sampah Ibu kota. Ini impian Jakarta sejak belasan tahun yang lalu,” tandasnya.
Fasilitas itu mampu mengolah sampah sebanyak 2.200 ton per-hari. Teknologi tersebut menghasilkan listrik hingga 35 MWh, dan mampu mereduksi 80-90 persen dari bobot sampah yang masuk. Standar baku mutu emisi gas buang yang digunakan mengacu Euro 5. Standar itu lebih baik dari patokan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.70/2016, tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan atau Kegiatan Pengolahan Sampah Secara Termal.
Andono menjamin, emisi gas buang ITF Sunter tidak berbahaya. Teknologi flue gas treatment yang dipakai, berfungsi memfilter partikel berbahaya dan menekan gas buang dari hasil pembakaran sampah.
Direktur Utama Jakpro, Dwi Wahyu Daryoto, menuturkan, penandatanganan perjanjian kerjasama telah dilakukan. Dia menilai, proyek pengelolaan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter memasuki fase penting. “Sesuai Pergub nomor 33 Tahun2018, kami diamanatkan untuk melaksanakan proyek ITF sebagai upaya kita bersamamengurangi masalah sampah kota. Proyek pertama kami, ITF Sunter mampu mengubah sampah menjadi energi listrik 35MW dari material 2.200 ton sampah perhari,” tutur Dwi.
Pekerjaan konstruksi ITF Sunter dimulai dengan land clearing pada Juni 2019. Dilanjutkan dengan pekerjaan awal konstruksi sipil, pile loading test dan land development. Pada fase tersebut, Jakpro mendapat fasilitas pembiayaan dari Bank DKI, sehingga proses pekerjaan berjalan sesuai rencana.
“Kami mengapresiasi PT PLN serta dukungan Kementerian ESDM dalam upaya mewujudkan pembangunan ITF Sunter. Sampah Jakarta 7.500 ton per-hari. ITF Sunter bisa mengolah sampah 2.200 ton per-hari. Pelaksanaan tugas ini untuk wujudkan wajah baru Jakarta yang bersih dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan,” tandas Dwi.
Direktur Utama PT JSL, Faisal Muzakki, mengaku senang dipercaya melaksanakan proyek ITF Sunter. “Jika kita bicara proses, satu per satu izin yang diperlukan dan studi kelayakan telah selesai. Diharapkan tahap konstruksi dimulai setelah negosiasi antarpihak dan sumber pendanaan dirampungkan,” paparnya.