Kualitas Nutrisi Pengaruhi Kualitas Tanaman Hidroponik
Editor: Mahadeva
BEKASI – Pertanian sistem hidroponik, menjadi program Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, sebagai upaya mendorong warga memanfaatkan lahan kosong dilingkungannya.
Kegiatan tersebut untuk upaya ketahanan pangan dan penghijauan lingkungan. Kesuksesan budi daya hidroponik, sangat dipengaruhi faktor nutrisi. Sehingga hal itu harus menjadi perhatian khusus para petani hidroponik. “Faktor lain untuk sukses budidaya sistem hidroponik adalah kontinuitas jangan sampai terlupakan,” kata Agus Suryono, pemilik Maura Farm kepada Cendana News, Senin (28/10/2019).
Agus Suryono, sukses mengembangkan berbagai jenis tanaman sayur dengan sistem hidroponik. Bahkan kini Dia dipercaya menjadi salah satu buyer pengisir pasar sayur modern di berbagai wilayah di Jabodetabek. Budi daya sayur hidroponik, pemberian nutrisi dengan kadar yang pas berpengaruh besar terhadap kualitas tanaman. Saat ini, Agus sukses membuat pertanian hidroponik skala besar, dengan 15 titik lokasi penanaman.

Memiliki jumlah lobang puluhan ribu. Dia telah memiliki kontrak untuk mengisi pasar sayur hidroponik dengan kapasitas 600 Kilo per-hari, dengan 10 jenis sayur mayur. “Saya sudah kontrak dengan salah satu buyer, tapi baru sanggup mengisi 300 kilogram per-harinya. Jenis sayuran seperti selada, lolo rosa, selada merah romain, pakcoy, kale caysim, bayam dan kangkung,” tandasnya.
Saat ini, pengembangan pertanian hidroponik di Kota Bekasi, disebutnya tidak bisa diajak kerjasama. Skala yang dilakukan masih kecil, dan hanya bisa sekali panen. Sementara untuk panen berikutnya membutuhkan waktu yang lama. Agus, saat ini mengembangkan hidroponik di Komplek Vida Bantargebang, Kota Bekasi, di atas lahan seluas 1.600 meter persegi. Lahan tersebut difungsikan sebagai infrastruktur untuk membuat 30 ribu lubang budi daya sayur berbagai jenis.
Mengembangkan lahan seluas 1.600 meter persegi, modalnya mencapai Rp300 juta. “Dengan 30 ribu lubang tanam indlude dengan semua peralatan,”paparnya.
Harga kontrak sayur yang diperoleh dengan buyer, perkilo berbagai jenis sayur dihargai Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Dari pendapatan tersebut, untuk biaya operasional upah pekebun sampai listrik dikeluarkan mencapai 15 persen dari pendapatan. “Hitung saja sebulan berarti keluar uangnya sekira Rp20 juta dengan harga Rp15 ribu, itu harga terendah untuk sayuran. Makanya tidak sampai tiga tahun sudah BEP alias balik modal,” pungkasnya.