Gagal Panen Akibatkan Kerugian Buruh Tanam Sistem Ceblok di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Gagal panen atau puso padi sawah merugikan petani dan buruh tanam sistem ceblok di Lampung Selatan (Lamsel) yang tidak memiliki lahan sawah. Sistem ceblok merupakan pola penanaman padi pada lahan pemilik dengan bagi hasil gabah saat panen.

Sumini, buruh tanam di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebutkan, pada masa tanam penghujan atau rendengan, ia bisa menanam sebanyak 10 bidang. Jumlah tersebut sudah maksimal, menyesuaikan tenaga dan kemampuannya saat menanam hingga panen.

Pada masa tanam kemarau atau gardu ia hanya menanam padi sistem ceblok sebanyak 8 bidang. Pengurangan bidang sawah terjadi akibat sebagian lahan sawah tidak digarap.

“Sebagai buruh tanam dengan sistem ceblok saya bisa ikut panen jika tanaman padi tumbuh dengan baik sehingga pemilik mendapatkan hasil dan buruh ceblok mendapatkan bagian, tapi jika tidak panen saya ikut merugi,” ungkap Sumini saat ditemui Cendana News, Kamis (3/10/2019)

Sumini menyebut sistem ceblok pada saat musim gadu hanya menguntungkan hingga masa penyiangan gulma (matun). Sebab buruh ceblok masih ikut membersihkan gulma rumput dengan upah Rp60.000 per hari. Namun saat penanaman (tandur) ia tidak mendapatkan upah.

Saat padi memasuki masa panen dilakukan pembagian hasil. Pembagian memakai takaran 5 ember cat untuk pemilik sawah dan 1 ember untuk buruh tanam sistem ceblok.

Sumini, buruh panen dengan sistem ceblok hanya memanen padi akibat kekeringan. Foto: Henk Widi

Pada kondisi panen musim rendengan, Sumini bisa mendapatkan sekitar 10 ember cat atau sekitar 100 kilogram. Namun saat musim tanam gadu ia hanya mendapatkan maksimal 7 ember cat.

Hasil bagian GKP menurutnya menyesuaikan luas ceblokan dan penanganan tanaman padi oleh pemilik. Penanganan pemberian air, pupuk dan pembersihan gulma yang baik membuat produksi padi akan melimpah. Jika dirata rata dalam satu ceblokan, ia mendapatkan sebanyak 100 kilogram.

Menyusutnya hasil panen imbas kemarau diakui buruh ceblok lain bernama Lina dan suaminya Sodikin. Proses tandur dengan sistem ceblok dilakukan sang istri namun saat panen ia ikut membantu dalam proses perontokan.

“Jika lahan sawah gagal panen, petani dan buruh ceblok juga rugi tidak dapat bagin gabah,” ungkap Sodikin.

Suharso, pemilik lahan sawah di Desa Kelaten memastikan tanaman padi miliknya puso. Buruh ceblok dan dirinya sebagai pemilik sama sama tidak mendapatkan hasil. Kemarau sejak bulan Juli silam membuat padi sawah yang sebagian berbulir mengering. Tanah yang sudah disirami dengan memanfaatkan sumur bor tidak mampu membuat padi miliknya tumbuh normal.

“Pasrah saja, selain pemilik buruh ceblok yang menanam padi juga merugi karena biasanya panen sekarang malah gagal panen,” keluhnya.

Lihat juga...